Barongsai Buatan Sidoarjo Tembus Nusantara
- 17 Feb 2026 12:53 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Sidoarjo - Barongsai menjadi salah satu ikon budaya dalam berbagai kegiatan warga Tionghoa hingga acara lintas budaya berskala nasional. Tak banyak yang tahu, salah satu barongsai handmade berkualitas justru lahir dari Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, melalui tangan kreatif seorang perajin lokal.
Julius Setiawan, warga Perumahan Shoji Land, Kecamatan Candi, memulai perjalanannya sebagai perajin barongsai sejak 2006. Ketertarikannya muncul ketika dua barongsai milik timnya yang dibeli dari China mengalami kerusakan.
Alih-alih membeli baru, ia memilih memperbaiki sendiri demi belajar membuatnya dari nol. “Awalnya cuma memperbaiki, lama-lama penasaran bagaimana bikin dari awal,” ujarnya, Selasa 17 Februari 2026.
Kemampuan Julius terus berkembang hingga pada 2010 karyanya mulai dipesan berbagai kelompok barongsai. Ia dikenal memiliki ciri khas pada desain dan bobot barongsai yang lebih ringan dibanding produk impor. Menurutnya, barongsai buatan luar negeri cenderung berat sehingga cepat melelahkan pemain.
Barongsai karya Julius menggunakan rangka bambu yang dilapisi kain kanvas dan kertas HVS hingga tiga lapis, kemudian dilukis, dipernis, serta dipasang bulu dan aksesori. “Kalau punya saya lebih ringan, jadi aman dipakai pertunjukan lama,” ujarnya.
Hobi menggambar sejak kecil menjadi modal utama Julius dalam melukis kepala barongsai. Pesanan rutin datang setiap tahun, meski sempat terhenti saat pandemi Covid-19. “Waktu itu benar-benar mati, tidak ada order maupun pertunjukan,” ucapnya mengenang.
Pasca pandemi, permintaan kembali meningkat. Harga satu set barongsai buatannya berkisar Rp4 juta hingga Rp7 juta, sementara naga barongsai mencapai Rp7–9 juta per unit. Tahun ini ia menerima enam pesanan barongsai dan tiga naga, bahkan terpaksa menolak tambahan pesanan karena keterbatasan waktu.
Pengiriman karyanya telah menjangkau berbagai daerah hingga Nusa Tenggara Timur. Meski menghadapi kendala tenaga penjahit dan aksesori impor, Julius tetap bertahan karena kecintaannya pada budaya. “Saya senang bisa ikut mewariskan budaya lewat barongsai,” katanya.