Tradisi Unik saat Lebaran
- 09 Mar 2026 09:00 WIB
- Surabaya
RRI. CO. ID, Surabaya - Perayaan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia dikenal memiliki beragam tradisi yang unik dan meriah dibandingkan dengan negara-negara Islam lainnya. Hal tersebut disampaikan oleh Bapak H. Ris Handana, ST, Pencinta Budaya Nusantara, dalam acara “Tanjung Perak Malam: Aspirasi Budaya, Pelestarian Budaya” di RRI Surabaya dengan topik “Tradisi Unik Saat Lebaran.”
Menurut Ris Handana, suasana Idul Fitri di Indonesia tidak hanya dirayakan pada hari pertama lebaran saja, tetapi juga berlanjut hingga beberapa hari bahkan satu minggu setelahnya. Di berbagai daerah, puncak kemeriahan justru terjadi pada tradisi Syawalan, Bada Kupat, atau Kupatan, yang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Nusantara.
Ia menjelaskan, setelah Hari Raya Idul Fitri, sebagian masyarakat telah kembali dari kampung halaman lebih awal untuk menghindari kemacetan arus balik. Namun, banyak pula yang masih memanfaatkan libur panjang untuk berwisata atau bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabat yang belum sempat dikunjungi.
Ris Handana lebih lanjut, memaparkan sejumlah tradisi khas masyarakat Indonesia dalam menyambut dan merayakan Idulfitri. Tradisi pertama adalah mudik, yakni kebiasaan masyarakat yang merantau untuk kembali ke kampung halaman dan merayakan lebaran bersama keluarga. Tradisi ini telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu dan hingga kini menjadi fenomena besar, dengan puluhan juta masyarakat melakukan perjalanan setiap tahunnya.
Tradisi berikutnya adalah ketupat, makanan khas yang menjadi ikon perayaan Idulfitri di Indonesia. Ketupat terbuat dari beras yang dibungkus anyaman daun kelapa muda dan biasanya disajikan bersama opor ayam atau hidangan khas lainnya setelah pelaksanaan Salat Id, serta disuguhkan kepada tamu yang datang bersilaturahmi. Selain itu, silaturahmi juga menjadi tradisi utama saat lebaran. Pada momen ini, keluarga, kerabat, tetangga, dan sahabat saling berkunjung untuk mempererat hubungan serta saling memaafkan setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan.
Tradisi lain yang tidak kalah populer adalah mengenakan baju baru saat lebaran. Masyarakat Indonesia menganggap Idulfitri sebagai momentum istimewa, sehingga banyak orang mengenakan pakaian terbaik atau baru sebagai simbol kebahagiaan dan kesucian setelah menjalani ibadah puasa. Sementara itu, suasana malam menjelang Idulfitri biasanya dimeriahkan dengan takbiran, yaitu lantunan takbir, tahmid, dan tahlil yang dikumandangkan sejak matahari terbenam hingga pelaksanaan Shalat Id. Di Indonesia, kegiatan ini sering dikemas dalam berbagai kegiatan meriah seperti pawai obor atau kendaraan hias.
Ris Handana juga menyinggung tradisi petasan yang kerap mewarnai suasana lebaran. Meskipun memiliki risiko bahaya dan sering dilakukan penertiban oleh pihak berwenang, penggunaan petasan masih menjadi bagian dari kemeriahan Idulfitri di beberapa daerah. Selain itu, masyarakat juga memiliki tradisi ziarah kubur, yakni mengunjungi makam orang tua atau keluarga yang telah meninggal dunia sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi mereka yang telah mendahului.
Kemeriahan lebaran juga semakin terasa dengan hadirnya berbagai kue khas lebaran, seperti nastar, brownies kering, dan aneka kue lainnya yang disajikan untuk menyambut tamu yang datang bersilaturahmi. Tak kalah penting, ada pula tradisi Tunjangan Hari Raya (THR) yang diberikan oleh perusahaan atau instansi kepada para pekerja. THR biasanya diberikan menjelang Idulfitri untuk membantu memenuhi kebutuhan selama perayaan lebaran, mulai dari membeli pakaian baru hingga biaya perjalanan mudik.
Melalui berbagai tradisi tersebut, Ris Handana menegaskan bahwa Idulfitri di Indonesia bukan hanya sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi momentum budaya yang mempererat hubungan sosial, kekeluargaan, serta memperkuat nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan masyarakat.