Sering Doomscrolling Konten Negatif Berdampak pada Kesehatan Mental

  • 26 Feb 2026 12:21 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Di era digital yang serba cepat, kebiasaan scrolling layar smartphone tanpa henti untuk membaca berita negatif atau informasi dapat memicu kecemasan semakin sering terjadi. Fenomena ini dikenal dengan istilah doomscrolling, yakni perilaku terus-menerus membaca atau melihat konten terutama konten buruk atau mengkhawatirkan yang ada di media sosial dan internet. Tanpa disadari, kebiasaan ini dapat berdampak pada kesehatan mental seseorang.

Istilah doomscrolling mulai populer sejak masa pandemi COVID-19, ketika banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam membaca kabar terkait krisis kesehatan global. Menurut laporan Stress in America 2020: A National Mental Health Crisis (2020) dari American Psychological Association (APA), paparan berita negatif secara berlebihan dapat meningkatkan tingkat stres dan kecemasan, terutama jika individu merasa tidak memiliki kendali atas situasi yang diberitakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena ini sering terjadi tanpa disadari. Seseorang mungkin awalnya hanya ingin membaca satu berita sebelum tidur, namun berakhir dengan menghabiskan waktu lebih dari satu jam menelusuri berbagai informasi yang serupa. Perasaan cemas, khawatir, atau bahkan takut yang muncul perlahan membuat pikiran sulit beristirahat. Akibatnya, kualitas tidur menurun dan tubuh terasa lelah keesokan harinya.

Penelitian terbaru dari Flinders University (2024) terkait dampak doomscrolling terhadap kesehatan mental juga menemukan bahwa kebiasaan mengakses konten negatif secara berlebihan berkaitan dengan peningkatan tingkat kecemasan pada mahasiswa dari Amerika Serikat dan Iran. Hasilnya menunjukkan bahwa semakin sering seseorang membaca berita negatif tanpa henti, semakin besar kemungkinan muncul perasaan cemas, putus asa, dan pandangan negatif terhadap kehidupan.

Lembaga Kesehatan Dunia World Health Organization (WHO) pada 2020 juga menekankan pentingnya membatasi akses informasi yang berlebihan, terutama saat menghadapi krisis global. WHO menyarankan masyarakat untuk mengakses berita dari sumber tepercaya dalam durasi yang wajar serta menghindari konsumsi informasi sebelum waktu tidur guna menjaga kestabilan emosi.

Untuk mengurangi dampaknya, psikolog Dr. Susan Albers dari Cleveland Clinic di Ohio, Amerika Serikat, dalam artikelnya berjudul “Doomscrolling: How to Stop the Cycle” yang diterbitkan pada 2022 menyarankan beberapa langkah sederhana seperti menetapkan batas waktu penggunaan media sosial, mematikan notifikasi berita yang tidak mendesak, serta mengganti kebiasaan menggulir layar dengan aktivitas yang lebih menenangkan seperti membaca buku atau berolahraga ringan.

Di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti, bijak dalam mengonsumsi berita menjadi kunci menjaga kesehatan mental. Mengikuti perkembangan informasi memang penting, namun menjaga keseimbangan emosional dan waktu istirahat tidak kalah krusial agar tubuh dan pikiran tetap sehat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Rekomendasi Berita