Wayang Beber, Seni Bertutur lewat Gulungan Gambar
- 13 Mar 2026 10:50 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Wayang beber menjadi salah satu bentuk kesenian tradisional Jawa yang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan wayang pada umumnya. Jika wayang kulit dimainkan di balik kelir dengan bayangan, wayang beber justru disajikan melalui lukisan yang digulung lalu dibeberkan sambil dituturkan oleh dalang.
Pemilik sekaligus pengelola Galeri Naladarma Baluarti Surakarta, Doni Susanto, mengatakan wayang beber merupakan bentuk pertunjukan yang menggabungkan seni lukis dan seni tutur. Dalam pementasannya, dalang membuka gulungan gambar satu per satu sambil menjelaskan alur cerita kepada penonton.
“Wayang beber itu dibeberkan atau dibuka gulungannya, lalu dalang bertutur menjelaskan ceritanya. Jadi seperti membaca komik, tetapi dituturkan secara langsung,” kata Doni dalam dialog budaya Jagongan di Studio Pro 4 RRI Surakarta pada Selasa, 10 Maret 2026.
Ia menjelaskan satu gulungan wayang beber terdiri dari beberapa adegan yang disebut “jagong”. Setiap jagong menggambarkan bagian cerita yang berbeda dan dimainkan secara berurutan hingga membentuk alur kisah yang utuh.
Menurut Doni, cerita yang paling umum dalam wayang beber adalah kisah Panji, yaitu perjalanan cinta Panji Asmara Bangun dengan Dewi Sekartaji. Kisah tersebut berasal dari masa kerajaan Jenggala dan Kediri yang menjadi salah satu legenda penting dalam tradisi Jawa.
“Cerita Panji itu menggambarkan perjuangan cinta Panji Asmara Bangun dengan Dewi Sekartaji. Dalam perjalanannya banyak rintangan sebelum akhirnya mereka dipertemukan kembali,” ujarnya.
Wayang beber sendiri diyakini sudah ada jauh sebelum berkembangnya wayang kulit dan wayang orang. Pada masa lampau, kesenian ini sering dipentaskan dengan nuansa ritual dan iringan musik sederhana bernada slendro.
Namun seiring perkembangan zaman, pertunjukan wayang beber mulai mengalami berbagai inovasi agar tetap diminati generasi muda. Salah satunya dengan menggabungkan unsur wayang kulit, musik yang lebih dinamis, hingga penari dalam pementasan.
“Kami mencoba membuat pementasan lebih atraktif, misalnya dicampur dengan wayang kulit atau ditambah penari agar generasi sekarang lebih tertarik,” kata Doni.
Selain sebagai pertunjukan, wayang beber juga memiliki nilai filosofi yang mendalam. Menurutnya, cerita dalam wayang beber banyak menggambarkan perjuangan hidup, kesetiaan, serta usaha manusia dalam meraih tujuan.
“Cerita Panji itu sebenarnya tentang perjuangan hidup. Filosofinya adalah sesuatu harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh sampai berhasil,” ujarnya.
Melalui Galeri Naladarma yang didirikan di rumah peninggalan kakeknya, Doni berharap wayang beber dapat semakin dikenal masyarakat luas. Ia juga membuka ruang bagi pelajar, wisatawan, maupun komunitas budaya yang ingin belajar atau berdiskusi mengenai kesenian tersebut.
“Saya berharap generasi muda tetap mengenal budaya Jawa. Karena di setiap sudut budaya kita itu penuh cerita dan nilai kehidupan,” kata Doni. (Hil)