Waspada Praktik Digital Profiling dari Perusahaan Pinjaman

  • 05 Mar 2026 08:41 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Fenomena munculnya penawaran pinjaman online setelah seseorang mencari barang tertentu di internet bukanlah sebuah kebetulan. Munculnya notifikasi atau sms pinjaman ini sering kali membuat pengguna merasa diawasi. Kejadian seperti ini biasa dikaitkan dengan praktik yang dikenal dengan digital profiling.

Mengutip dari Tech Target, Digital profiling (pemprofilan digital) adalah proses pengumpulan dan analisis jejak digital, aktivitas media sosial, pola komunikasi, dan perilaku online seseorang untuk membuat gambaran atau profil terperinci. Aktivitas seperti pencarian produk, kebiasaan belanja, hingga pola penggunaan aplikasi dapat dikumpulkan menjadi data yang sangat berharga. Data tersebut kemudian digunakan untuk memetakan kondisi dan potensi kebutuhan finansial seseorang.

Mengutip dari unggahan akun Instagram @barengfikry, dalam beberapa kasus, data perilaku dijual dan dimanfaatkan oleh perusahaan periklanan atau pihak ketiga untuk menargetkan promosi tertentu. Termasuk di antaranya adalah promosi layanan pinjaman atau produk keuangan digital. Tujuannya adalah untuk menjangkau pengguna pada saat mereka dianggap sedang membutuhkan dana.

Fikry menuturkan salah satu cara sederhana untuk mengurangi risiko tersebut adalah dengan mematikan fitur Ad Personalization pada akun Google. Fitur ini biasanya digunakan untuk menampilkan iklan yang disesuaikan dengan aktivitas pengguna di internet. Dengan menonaktifkannya, iklan yang muncul menjadi lebih umum dan tidak terlalu dipersonalisasi.

Selain itu pengguna juga perlu memperhatikan perizinan aplikasi yang terpasang di ponsel. Beberapa aplikasi keuangan meminta akses ke data pengguna aplikasi (usage data) atau aktivitas perangkat. Jika memang tidak diperlukan, sebaiknya izin tersebut dicabut atau dibatasi demi menjaga privasi dan keamanan data pribadi.

Pengguna juga disarankan untuk membatasi akses aplikasi terhadap dompet digital atau informasi transaksi. Data transaksi dan kebiasaan belanja bisa menjadi indikator kondisi finansial seseorang. Jika informasi tersebut tersebar luas, potensi penyalahgunaan data bisa meningkat.

Pada akhirnya kesadaran digital menjadi kunci utama dalam menjaga keamanan data pribadi. Pengguna perlu lebih kritis lagi terhadap pemberian izin aplikasi dan cara perusahaan memanfaatkan data mereka. Dengan pengaturan privasi yang tepat, risiko menjadi target promosi pinjaman yang agresif dapat diminimalkan.

(Yogi Tripriyanto/Penyiar)

Rekomendasi Berita