Selembar Gulungan Srabi Solo Tetap Menjadi Makanan Primadona

  • 27 Feb 2026 10:05 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Kudapan legendaris Srabi Solo kini semakin populer sebagai ikon kuliner yang merepresentasikan kelembutan budaya khas masyarakat Jawa Tengah. Makanan tradisional ini terbuat dari adonan tepung beras serta santan kental yang dimasak di atas tungku tanah liat.

Makanan tradisional merupakan bagian dari identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun dan mencerminkan kearifan lokal suatu daerah” (Fardiaz, 1998). Sejarah panjang makanan Srabi bermula dari kawasan Notosuman sejak tahun 1923 oleh Ny Hoo Ping Hok.

Meskipun zaman sudah modern, banyak para penjual mempertahankan penggunaan arang kayu demi menjaga aroma wangi yang sangat khas. Ini menjadi bukti kuatnya tradisi dalam memasak.

Proses memasak yang telaten ini menghasilkan kualitas rasa autentik sehingga para pelanggan setia selalu rela antre setiap harinya. Terlebih rasa yang berbeda dari masakan melalui arang kayu berbeda.

Inovasi varian rasa kekinian seperti cokelat dan keju kini dihadirkan untuk menarik minat generasi muda agar mencintai kuliner lokal. Setiap gulungan srabi biasanya dibalut menggunakan daun pisang segar untuk menambah aroma harum serta menjaga kelembapan tekstur.

Pelestarian kuliner tradisional diperlukan sebagai bentuk perlindungan terhadap identitas budaya bangsa di tengah arus globalisasi” (Brata & Wijaya, 2019). Pasalnya kuliner tradisional selalu menjadi daya tarik ditengah kerinduan makanan tradisional.

Dukungan pemerintah terhadap UMKM kuliner diharapkan mampu membawa kudapan tradisional ini bersaing hingga ke kancah pasar internasional.(Aris-Dimas Sahabat Magang UNS). Pergerakan UMKM juga terus terlihat ditengah globalisasi.

Referensi :

• Fardiaz, D. (1998). Peluang, kendala dan strategi pengembangan makanan tradisional. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, 9(1), 1–9.

• Brata, I. B., & Wijaya, I. W. (2019). Local wisdom as cultural identity in traditional culinary. Journal of Indonesian Tourism and Development Studies, 7(2), 85–92.

Rekomendasi Berita