Chris Hemsworth Akui Rapuh di Balik Film Thor
- 04 Feb 2026 10:41 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon: Di balik sosok Thor yang dikenal perkasa dan tak tergoyahkan, Chris Hemsworth ternyata menyimpan sisi rapuh yang jarang terlihat publik. Aktor asal Australia itu kini mulai membuka diri, membicarakan kecemasan, ketakutan, hingga perubahan cara pandangnya soal makna sukses dan kehidupan.
“Rasanya seperti duduk di sofa terapi,” ujar Hemsworth sambil tertawa saat diwawancarai di sebuah hotel di London dilansir dari theguardian.com. Namun candaan itu segera berubah menjadi obrolan serius. Aktor berusia 42 tahun ini mengakui bahwa citra maskulinitas yang ia tampilkan selama lebih dari dua dekade di Hollywood bukan sepenuhnya dirinya. Ada bagian yang memang dibangun untuk memenuhi ekspektasi publik.
Lewat perannya sebagai Thor dalam sembilan film Marvel, Hemsworth menjelma menjadi simbol laki-laki kuat, percaya diri, dan tak tergoyahkan. Popularitas global dan bayaran fantastis pun mengikutinya. Namun di balik layar, ia mengaku sempat bergulat dengan kecemasan berlebihan dan serangan panik, terutama di awal kariernya.
“Karakter yang orang lihat di wawancara itu memang saya, tapi juga sebuah konstruksi. Itu versi diri yang saya pikir ingin dilihat orang,” ungkapnya. Transformasi fisik sebagai dewa petir justru menjadi tameng emosional. Otot, suara berat, dan postur tubuh yang dominan memberinya rasa aman.
Kini, lewat film terbarunya Crime 101 garapan sutradara Bart Layton, Hemsworth tampil berbeda. Ia memerankan Mike Davis, pencuri perhiasan kelas kakap yang justru dipenuhi keraguan dan kerentanan batin. “Di peran ini saya merasa sangat terekspos. Tidak ada tempat bersembunyi seperti saat memainkan Thor,” katanya.
Film ini diadaptasi dari novel pendek karya Don Winslow dan mempertemukan Hemsworth dengan Halle Berry dan Mark Ruffalo. Crime 101 digambarkan sebagai thriller neo-noir yang menyoroti krisis eksistensial para karakternya. Tidak ada tokoh yang sepenuhnya baik atau jahat, semuanya terjebak dalam peran yang tak lagi cocok dengan diri mereka.
Tema pencarian jati diri dan kegelisahan hidup juga terasa dekat dengan kehidupan pribadi Hemsworth. Ia mengaku definisi suksesnya kini berubah. Dulu, pencapaian besar dan pengakuan publik menjadi tolok ukur kebahagiaan. “Saya pikir jika mendapat nominasi atau membintangi film terbesar, saya akan merasa utuh. Ternyata itu absurd,” tuturnya.
Perubahan pandangan itu semakin terasa sejak ayahnya didiagnosis Alzheimer. Kondisi tersebut membuat Hemsworth melambat dan lebih menghargai waktu bersama keluarga. Anak-anaknya yang kini beranjak remaja juga menjadi pengingat bahwa banyak momen tak akan terulang.
Keterbukaan Hemsworth juga terlihat lewat serial dokumenter Limitless, di mana ia mengungkap risiko genetik Alzheimer yang dimilikinya. Keputusan membuka sisi personal itu bukan perkara mudah. Ia sempat khawatir publik tak lagi melihatnya sebagai bintang aksi. Namun dokumenter tersebut justru ia sebut sebagai salah satu karya terpenting dalam hidupnya.
“Orang sering bicara soal cuaca atau olahraga, tapi jarang ada yang bertanya, ‘Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu takut?’” katanya.
Kini, Hemsworth mengaku lebih selektif dalam memilih proyek. Ia tak lagi semata mengejar jumlah atau skala, melainkan koneksi, makna, dan orang-orang yang ia kagumi. Sebuah fase baru, di mana sang Dewa Petir tak ragu menunjukkan sisi manusianya.