TikTok Mengawasi Anda, bahkan tanpa Aplikasi
- 12 Feb 2026 09:07 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon : TikTok terus memperluas “kerajaan” pengumpulan datanya. Menghindari aplikasi ini ternyata belum tentu cukup untuk melindungi privasi Anda. Namun kabar baiknya, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan dalam hitungan menit untuk membatasi jejak digital Anda.
Selama ini, publik mungkin sudah paham bahwa TikTok melacak aktivitas penggunanya di dalam aplikasi. Yang jarang disadari, perusahaan tersebut juga mengikuti pergerakan pengguna di berbagai situs lain di internet—bahkan di luar platformnya.
Lebih mengejutkan lagi, TikTok dapat mengumpulkan informasi sensitif tentang seseorang meski orang tersebut tidak pernah mengunduh atau menggunakan aplikasinya. Dalam sepekan terakhir, sejumlah situs diketahui mengirimkan data ke TikTok terkait diagnosis kanker, tes kesuburan, hingga pencarian bantuan krisis kesehatan mental. Semua itu menjadi bagian dari jaringan pelacakan yang jauh melampaui sekadar media sosial hiburan.
Dilansir dari BBC Perubahan terbaru ini muncul tak lama setelah operasional TikTok di Amerika Serikat resmi berpindah tangan ke sekelompok perusahaan yang memiliki kaitan dengan Presiden AS Donald Trump. Kesepakatan tersebut memicu kembali kekhawatiran soal privasi dari sejumlah pakar hak asasi manusia dan pengguna. TikTok sendiri menegaskan memiliki pedoman transparan terkait respons terhadap permintaan data dari pemerintah
Pixel Tak Terlihat yang Mengintai
Sorotan utama ada pada pembaruan besar terhadap fitur “TikTok Pixel”, sebuah alat pelacak yang dipasang perusahaan di situs web untuk memantau perilaku pengunjung. Perusahaan keamanan siber Disconnect menemukan bahwa versi terbaru pixel TikTok mengumpulkan informasi dengan cara yang dinilai lebih invasif dibandingkan kompetitornya. Cara kerjanya sederhana tapi masif. Pixel adalah gambar tak terlihat berukuran satu piksel yang dimuat di latar belakang sebuah situs. Ketika seseorang mengunjungi atau mengklik sesuatu di situs tersebut, pixel mengirimkan data kembali ke jaringan iklan—termasuk TikTok.
Misalnya, ketika seseorang mengisi formulir di situs dukungan kanker dan menandai dirinya sebagai pasien atau penyintas, situs tersebut dapat mengirimkan alamat email beserta informasi itu ke TikTok. Hal serupa terjadi ketika pengguna melihat tes kesuburan di situs kesehatan perempuan, atau mencari konselor krisis di laman organisasi kesehatan mental.
“Sangat invasif,” kata Patrick Jackson, Chief Technology Officer Disconnect dilansir dari BBC. “Ketika Anda menganalisis kode pixel tersebut, ada hal-hal yang terlihat sangat mengkhawatirkan.”
Yang perlu dicatat, pengiriman data ini terjadi pada setiap pengunjung situs yang memasang pixel—tanpa peduli apakah orang tersebut punya akun TikTok atau tidak . Dilansir dari BBC , TikTok menyatakan bahwa situs web wajib mematuhi hukum privasi dan tidak diperbolehkan membagikan data sensitif seperti informasi kesehatan. Perusahaan juga mengklaim memiliki pengaturan privasi dan kontrol bagi pengguna.
Namun kritik menyebut persoalannya lebih luas. Perusahaan teknologi besar dinilai semakin agresif melacak aktivitas pengguna di seluruh internet. Data dari DuckDuckGo menunjukkan pixel TikTok ada di sekitar 5% situs teratas dunia. Angka itu memang masih jauh di bawah Google (sekitar 72%) dan Meta (sekitar 21%), tetapi trennya terus meningkat.
“Ini persis pola yang dulu digunakan Google dan Meta,” kata Peter Dolanjski dari DuckDuckGo dilansir dari BBC. Mereka memulai dengan mengumpulkan sedikit data, lalu berkembang menjadi kerajaan data yang memiliki visibilitas besar terhadap kehidupan sehari-hari pengguna.
Risiko di Balik Iklan yang “Terlalu Tepat”
Semua data tersebut membuat iklan yang muncul terasa lebih relevan dan personal. Namun di balik kenyamanan itu, ada risiko besar.
Data rinci tentang kondisi kesehatan, preferensi pribadi, hingga situasi emosional seseorang dapat dimanfaatkan algoritma untuk mendorong perilaku tertentu. Mulai dari memengaruhi keputusan belanja, kampanye politik yang tertarget, hingga diskriminasi harga—di mana seseorang bisa saja ditawari harga berbeda berdasarkan profil digitalnya.
Versi terbaru pixel TikTok juga disebut mampu “mencegat” data yang sebelumnya dikirim situs ke Google. Artinya, potensi data yang tersedot bisa lebih besar dari yang disadari pemilik situs sekalipun. TikTok membantah tudingan tersebut dan menyebut perusahaan bisa mengatur ulang sistem situsnya bila tidak ingin data tertentu terbaca.
Jaringan Iklan Makin Luas
Sejak 22 Januari 2026, TikTok memperbarui kebijakan pengumpulan datanya bersamaan dengan peluncuran jaringan iklan baru. Kini, pixel tak hanya mengukur efektivitas iklan di dalam aplikasi, tetapi juga melacak apakah pengguna yang melihat iklan di TikTok melakukan pembelian di situs lain.
Langkah ini diperkirakan membuat lebih banyak perusahaan tertarik beriklan di TikTok. Konsekuensinya, pixel berpotensi muncul di semakin banyak situs—dan memperluas jaringan pelacakan.
Cara Melindungi Diri
Meski terdengar mengkhawatirkan, ada langkah praktis yang bisa dilakukan:
1. Gunakan browser yang lebih ramah privasi.
Sebagian besar pengguna internet memakai Google Chrome, yang dalam sejumlah riset awal disebut mengirim lebih banyak data dibanding pesaingnya. Alternatif seperti DuckDuckGo Browser dan Brave dirancang dengan perlindungan pelacak bawaan. Firefox dan Safari juga dinilai lebih baik dari Chrome dalam hal privasi default.
2. Pasang ekstensi pemblokir pelacak.
Ekstensi seperti Privacy Badger, Ghostery, uBlock Origin, atau AdBlock Plus dapat membantu memblokir pixel dan pelacak lainnya. Pastikan mengunduh dari sumber tepercaya agar tidak justru memasang aplikasi berisiko.
Langkah-langkah ini dapat menghentikan pixel TikTok dan berbagai pelacak lain sebelum data terkirim.
Namun perlu diingat, pemblokiran pixel bukan solusi total. Banyak perusahaan berbagi data langsung dari server mereka ke raksasa teknologi tanpa melalui browser pengguna, sehingga lebih sulit dideteksi. Salah satu cara meminimalkan risiko adalah tidak menggunakan informasi pribadi yang sama di berbagai layanan, agar data lebih sulit dicocokkan. Pada akhirnya, para pakar menilai solusi jangka panjang ada pada regulasi privasi yang lebih kuat. Masalah ini bukan hanya milik satu platform, melainkan ekosistem teknologi periklanan secara keseluruhan. Sementara aturan belum sepenuhnya melindungi, kesadaran dan langkah kecil dari pengguna bisa menjadi benteng pertama menjaga privasi di tengah internet yang makin transparan—bukan bagi Anda, tetapi bagi perusahaan teknologi.