Tari Gandrung Warisan Budaya Kabupaten Banyuwangi

  • 18 Feb 2026 20:22 WIB
  •  Talaud

RRI.CO.ID, Talaud - Tari gandrung merupakan salah satu kesenian tradisional yang menjadi identitas masyarakat Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Tarian ini telah lama hidup dan berkembang sebagai hiburan rakyat yang melekat dalam berbagai kegiatan adat serta perayaan masyarakat. Keberadaannya tidak hanya menjadi tontonan tetapi juga sarat makna sosial dan historis bagi masyarakat setempat.

Mengutip dari laman Indonesia Kaya tari gandrung memiliki kedekatan gaya dengan kesenian Jaipong dari Jawa Barat dan ronggeng dari Jawa Tengah. Ketiganya sama-sama menonjolkan unsur tari pergaulan yang komunikatif dan interaktif dengan penonton. Namun gandrung memiliki karakteristik khas Banyuwangi yang membedakannya baik dari segi gerak, musik pengiring, maupun busananya.

Dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi tari gandrung kerap dipentaskan untuk menyemarakkan berbagai momentum penting. Salah satunya adalah perayaan panen raya sebagai wujud syukur atas hasil bumi yang melimpah. Selain itu tarian ini juga hadir dalam resepsi pernikahan, khitanan, hingga acara penyambutan tamu kehormatan.

Kehadiran tari gandrung dalam berbagai acara tersebut bukan sekadar hiburan. Tarian ini menjadi simbol penghormatan kepada para tamu sekaligus sarana mempererat hubungan antara tuan rumah dan masyarakat. Suasana meriah yang tercipta melalui alunan musik dan gerak tari menghadirkan kebersamaan yang hangat di tengah perhelatan adat.

Beragam cerita berkembang mengenai asal-usul tari gandrung. Salah satu kisah menyebutkan bahwa tarian ini lahir dari dinamika sejarah masyarakat Blambangan pada masa lampau. Setelah mengalami kekalahan dalam perlawanan melawan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), masyarakat Blambangan mengalami masa-masa sulit.

Dalam situasi tersebut, kesenian gandrung dipercaya menjadi media pemersatu yang membangkitkan kembali semangat kebersamaan rakyat. Pada masa awal kemunculannya tarian ini justru dibawakan oleh laki-laki yang berdandan menyerupai perempuan. Seiring perkembangan zaman peran tersebut kemudian beralih kepada penari perempuan yang hingga kini menjadi ikon pertunjukan gandrung.

Satu pertunjukan tari gandrung umumnya terbagi ke dalam tiga bagian utama yang masing-masing memiliki fungsi berbeda. Bagian pembuka dikenal dengan istilah jejer di mana penari tampil menari secara mandiri atau bersama kelompoknya tanpa melibatkan tamu. Tahapan ini menjadi pengantar suasana sekaligus menunjukkan kemampuan teknik dan ekspresi penari.

Pada bagian berikutnya interaksi dengan penonton mulai terjalin menciptakan suasana akrab dan partisipatif. Struktur pertunjukan yang runtut ini menjadikan tari gandrung tidak sekadar pertunjukan seni melainkan juga ruang komunikasi sosial antara seniman dan masyarakat.

Daya tarik tari gandrung juga tampak pada busana yang dikenakan penarinya. Kostum khas berupa penutup badan berbahan beludru dengan hiasan benang emas memberikan kesan anggun dan mewah. Penari mengenakan jarik batik bermotif gajah oling, motif tradisional Banyuwangi yang sarat filosofi.

Hiasan kepala yang disebut omprok menjadi elemen penting dalam penampilan penari. Selain itu satu hingga dua kipas biasanya dibawa sebagai properti pendukung yang memperindah gerakan dan memperkuat ekspresi tari.

Sebagai warisan budaya yang tetap lestari hingga kini tari gandrung bukan hanya simbol seni pertunjukan, melainkan juga cerminan perjalanan sejarah dan identitas masyarakat Banyuwangi. Melalui gerak, musik, dan interaksi yang khas, tarian ini terus hidup dan menjadi kebanggaan daerah yang memperkaya khazanah budaya Indonesia.

Rekomendasi Berita