Tahuri: Suara Pesisir dari Tanah Maluku
- 24 Feb 2026 20:14 WIB
- Talaud
RRI.CO.ID, Talaud - Di wilayah kepulauan yang kaya akan tradisi bahari seperti Maluku lahir sebuah alat musik tiup yang unik dan sarat makna yaitu tahuri. Bentuknya sederhana namun khas terbuat dari cangkang kerang laut yang ditiup hingga menghasilkan bunyi lantang dan menggema. Bagi masyarakat pesisir, suara tahuri bukan sekadar bunyi melainkan bagian dari identitas budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
Tahuri tumbuh dan berkembang di tengah kehidupan masyarakat pantai Maluku dilansir dari laman Indonesia Kaya. Pada awalnya alat ini digunakan dalam konteks sosial yang sangat fungsional. Namun sekitar akhir 1950-an tahuri mulai diperkenalkan lebih luas sebagai bagian dari pertunjukan seni dengan memadukannya bersama berbagai alat musik tradisional Maluku lainnya. Sejak saat itu tahuri tidak hanya berperan sebagai alat komunikasi tetapi juga sebagai elemen penting dalam pertunjukan budaya.
Sebelum teknologi komunikasi berkembang seperti sekarang, masyarakat Maluku mengandalkan tahuri untuk menyampaikan pesan penting. Tiupan tahuri menjadi penanda agar warga segera berkumpul, biasanya di balai adat yang dikenal sebagai Baileo.
Menariknya setiap pola tiupan memiliki arti tersendiri. Jumlah dan ritme tiupan menjadi kode yang dipahami bersama oleh masyarakat. Misalnya, satu kali tiupan panjang dapat menjadi tanda adanya kabar duka di lingkungan setempat. Dengan demikian tahuri berfungsi sebagai “bahasa bunyi” yang efektif dalam kehidupan komunal masyarakat pesisir.
Selain sebagai alat komunikasi, tahuri juga memiliki peran penting dalam kesenian daerah. Salah satu tarian yang kerap diiringi bunyi tahuri adalah Tari Cakalele sebuah tarian perang tradisional yang penuh semangat dan heroisme. Dalam pementasan, tahuri biasanya dimainkan bersama tifa dan alat musik lainnya membentuk sebuah orkestra tradisional yang sering melibatkan anak-anak hingga remaja.
Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa tahuri bukan hanya warisan masa lalu tetapi juga bagian dari proses regenerasi budaya di kalangan generasi muda. Keistimewaan tahuri terletak pada bahan dasarnya yakni kerang laut. Ukuran kerang sangat memengaruhi karakter suara yang dihasilkan. Kerang berukuran kecil cenderung menghasilkan nada yang lebih tinggi dan nyaring sedangkan kerang berukuran besar mengeluarkan bunyi yang lebih dalam dan rendah.
Proses pembuatannya pun membutuhkan ketelitian. Bagian ujung kerang dilubangi menggunakan alat bor untuk menciptakan saluran tiup. Setelah itu pembuat akan mencoba meniupnya berulang kali untuk menyesuaikan kualitas dan tinggi rendah nada. Tidak jarang diperlukan beberapa kali penyesuaian hingga tercapai suara yang diinginkan.
Walaupun identik dengan Maluku tahuri juga dikenal di wilayah lain seperti di Kabupaten Biak, Papua. Di sana fungsinya tidak jauh berbeda yakni sebagai alat pemanggil warga dan pengiring tarian tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa budaya maritim di kawasan timur Indonesia memiliki keterkaitan yang erat terutama dalam pemanfaatan sumber daya alam sebagai media ekspresi budaya.
Tahuri bukan sekadar alat musik dari kerang laut. Ia adalah simbol kebersamaan, komunikasi, dan kekuatan tradisi masyarakat pesisir. Dari panggilan untuk berkumpul hingga iringan tarian perang yang penuh semangat, suara tahuri terus menggema sebagai penanda jati diri budaya Maluku.
Di tengah arus modernisasi keberadaan tahuri menjadi pengingat bahwa kearifan lokal dan kreativitas masyarakat tradisional tetap memiliki tempat yang penting dalam kehidupan masa kini.