Travelling itu Healing atau Bikin Rekening Kering

  • 27 Feb 2026 12:12 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Traveling sering disebut sebagai healing. Katanya, pergi jauh bisa menyembuhkan lelah, menyegarkan pikiran, dan membuat hidup terasa lebih hidup. Kita dapat melihat laut yang luas, gunung yang tinggi, kota baru yang asing dan sejenak merasakan bebas dari tekanan.

Tapi ada satu hal yang jarang dibahas, healing yang baik tidak boleh menciptakan masalah baru. Apabila setelah liburan justru menimbulkan stres karena saldo menipis, cicilan bertambah, dan tabungan terpakai, maka yang kita lakukan bukan penyembuhan melainkan penundaan masalah.

Banyak anak muda terjebak pada ilusi bahwa bahagia harus terlihat. Foto estetik, tiket pesawat, hotel nyaman, semuanya terasa seperti standar hidup yang normal. Padahal realitanya, kondisi keuangan setiap orang berbeda, tidak semua perjalanan adalah kebutuhan. Sebagian hanya dorongan FOMO.

Secara psikologis, traveling memang bisa meningkatkan mood dan mengurangi stres. Tapi efeknya sering bersifat sementara jika akar masalahnya tidak diselesaikan. Kalau sumber stres adalah keuangan atau karier, maka solusi jangka panjangnya adalah perencanaan dan pengelolaan, bukan sekadar pelarian.

Healing yang sehat adalah yang terukur. Pergi dengan dana yang memang sudah dialokasikan. Tanpa mengganggu dana darurat, tanpa mengorbankan kewajiban. Karena pengalaman itu investasi, tapi kestabilan adalah fondasi.

Jadi traveling bukan musuh keuangan, justru bisa menjadi bagian dari perencanaan hidup yang seimbang. Kuncinya bukan berhenti pergi, tapi belajar mengatur prioritas. Antara menikmati hari ini dan menjaga hari esok.

Pada akhirnya, kebahagiaan yang dewasa bukan tentang seberapa sering kita lari dari rutinitas, tetapi tentang kemampuan kita menciptakan hidup bukan melarikan diri dari masalah yang dihadapi.

Rekomendasi Berita