Mengenal Perbedaan Maag, Asam Lambung, dan GERD

  • 05 Feb 2026 09:31 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan – Rutinitas masyarakat Kota Tarakan yang dinamis, mulai dari kerja hingga tren budaya ngopi di kafe lokal, seringkali membawa tantangan tersendiri bagi kesehatan lambung.

Banyak di antaranya yang mudah menyebut rasa perih di ulu hati sebagai "sakit maag," namun kondisi medis yang dialami bisa jauh lebih kompleks dari sekadar istilah tersebut.

Dalam dialog "Tarakan Siang Ini" di kanal RRI Tarakan Official (30/01/26), dr. Inulda Nada Nabila menjelaskan bahwa maag sebenarnya bukanlah sebuah diagnosa penyakit tunggal, melainkan istilah umum untuk kumpulan gejala ketidaknyamanan di perut bagian atas.

Pendekatan ini sangat penting bagi warga Tarakan agar tidak salah langkah dalam melakukan penanganan mandiri yang justru bisa berisiko bagi kesehatan jangka panjang.

Dokter Nada menekankan bahwa asam lambung sebenarnya adalah kawan bagi tubuh yang berfungsi memecah makanan. Namun ia bisa menjadi lawan yang merusak jika naik ke area yang tidak semestinya, seperti kerongkongan.

Bagi masyarakat yang gemar menyantap makanan pedas seperti "seblak pedas" atau "mie level" yang menjamur di Tarakan harus berhati-hati. Kesadaran akan ambang batas kemampuan lambung masing-masing individu menjadi kunci utama agar kenikmatan kuliner tidak berujung pada penderitaan fisik. 

Ia menjelaskan tentang GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) yang bersifat lebih kronis dibandingkan maag biasa. Ciri khasnya adalah rasa terbakar di dada yang terjadi berulang, setidaknya dua kali seminggu, dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari serta kualitas tidur.

Di kota Tarakan yang penuh dengan penikmat kopi, dr. Nada menyarankan agar konsumsi kafein tetap dilakukan secara bijak dan tidak dalam keadaan perut kosong bagi mereka yang memiliki riwayat sensitivitas lambung. 

Menariknya, dialog ini juga mengungkap sisi humanis bahwa kesehatan lambung sangat berkaitan erat dengan kesehatan mental. Stres, kecemasan, hingga tekanan pekerjaan ternyata menjadi pemicu signifikan meningkatnya produksi asam lambung.

Bagi warga Tarakan yang sedang berjuang dengan tuntutan hidup, dr. Nada mengingatkan bahwa "hidup bahagia" adalah obat terbaik untuk menjaga keseimbangan sistem pencernaan kita. 

Mendekati bulan suci Ramadhan, ia memberikan angin segar bagi penderita gangguan lambung di Tarakan bahwa puasa bisa membantu menjaga pola makan yang lebih teratur. Tetapi, bagi mereka dengan kondisi yang cukup parah, konsultasi dengan tenaga medis profesional tetap dianjurkan agar ibadah dapat dijalankan dengan nyaman tanpa harus menahan rasa sakit hebat.

Sebagai penutup, pesan hangat disampaikan kepada seluruh masyarakat Tarakan untuk tidak hanya bergantung pada obat-obatan. Tebak-tebakan atau sekadar mengikuti tren kesehatan di media sosial. Mengenali tubuh sendiri, menjaga pola hidup sehat, dan berani mencari bantuan profesional jika gejala tidak kunjung membaik adalah langkah bijak tetap produktif serta sehat di tengah hiruk pikuk Bumi Paguntaka. (Andrey R/sti)

Rekomendasi Berita