Papua, Daerah Penting bagi Burung dan Keanekaragaman Hayati
- 09 Mar 2026 07:35 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Ternate - Tahap identifikasi Important Bird and Biodiversity Area (IBAs) memperlihatkan Papua menjadi wilayah penting bagi keanekaragaman hayati. Berdasarkan hasil kajian terbaru, Papua menjadi rumah bagi 641 spesies burung.
252 spesies di antaranya merupakan endemis pulau Papua dan 75 spesies lainnya adalah endemis Indonesia. Identifikasi yang dilakukan Burung Indonesia dan mitra strategis lainnya berhasil memetakan 59 lokasi penting dengan luas total mencapai 10.545.269 hektare.
Angka ini menjadikan Papua sebagai wilayah dengan jumlah dan luas IBA terbesar di Indonesia. Namun, kekayaan keanekaragaman hayati tersebut menghadapi ancaman nyata.
Perburuan yang tidak berkelanjutan, perubahan iklim, serta modifikasi lanskap yang mengakibatkan 14 spesies burung kini terancam punah secara global. Sehingga hasil identifikasi menjadi alat bantu utama dalam menentukan daerah prioritas pelestarian keanekaragaman hayati di Papua.
Di antara puluhan lokasi tersebut, terdapat lima wilayah yang menjadi prioritas utama untuk dieksplorasi lebih lanjut karena signifikansi ekologisnya. Wilayah tersebut antara lain, Pulau Waigeo, Pulau Misool, Pulau Biak, Pegunungan Cycloop, dan Wandamen-Wondiboy.
IBA sendiri adalah alat bantu untuk mencari daerah prioritas bagi upaya pelestarian keanekaragaman hayati. Menggunakan burung sebagai indikatornya karena terdapat di semua habitat, mudah dikenali, relatif mudah diamati, dan sangat peka terhadap perubahan lingkungan.
IBA pertama kali diperkenalkan di dunia konservasi keanekaragaman hayati pada awal tahun 1989 oleh International Council for Bird Preservation (ICBP) yang kemudian berganti nama menjadi BirdLife International. Upaya identifikasi IBA ini kemudian dilakukan oleh semua anggota federasi BirdLife International di setiap negara yang berjumlah lebih dari 120 negara termasuk Indonesia.
Di Indonesia sendiri, upaya untuk mencari IBA pertama kali dilakukan pada sekitar tahun 1993 untuk wilayah Jawa dan Bali. Kemudian diikuti dengan wilayah Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan terakhir di Papua yang selesai pada awal tahun 2026.
Hasil identifikasi IBA, diharapkan menjadi upaya pelestarian alam di Indonesia dapat lebih efektif. Terlebih untuk Papua dengan jumlah dan luas IBA terbesar di Indonesia.