Melihat, Fenomena Blood Moon 3 Maret 2026

  • 03 Mar 2026 14:49 WIB
  •  Tual

RRI.CO.ID, TUAL – Langit Indonesia malam ini, Selasa (3/3/2026), akan menyuguhkan fenomena astronomi yang memukau. Fenomena Gerhana Bulan Total atau yang sering dijuluki sebagai Blood Moon (Bulan Darah) dipastikan dapat dinikmati di seluruh wilayah Nusantara.

Peristiwa alam ini menjadi sangat spesial karena bertepatan dengan momen bulan Ramadan, di mana umat Muslim di Indonesia tengah menjalankan ibadah puasa dan bersiap melaksanakan salat gerhana berjamaah.

Seorang anggora komunitas astronomi bernama panggilan Adit, pada sebuah konten yang diposting oleh akun facebook Planetarium dan Observatorium Jakarta menjelskan, Secara ilmiah Gerhana Bulan Total terjadi ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada tepat di satu garis lurus. Bulan akan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan inti (Umbra) Bumi.

Uniknya, bulan tidak akan hilang dalam gelap gulita, melainkan berubah warna menjadi merah bata. Warna merah ini muncul akibat pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer Bumi yang kemudian mencapai permukaan bulan.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dirilis sejak kemarin, berikut adalah rincian waktu kejadiannya:

Fase Gerhana Waktu (WIB) Keterangan

Gerhana Mulai (P1) 16.02 WIB Bulan mulai masuk bayangan samar (Penumbra).

Gerhana Sebagian 17.09 WIB Bulan mulai tampak "terpotong" oleh bayangan gelap.

Puncak Gerhana 18.33 WIB Bulan berubah menjadi merah total (Blood Moon).

Gerhana Berakhir 21.05 WIB Bulan kembali ke bentuk semula secara utuh.

Sebagai catatan untuk wilayah WITA ditambah 1 jam, dan WIT ditambah 2 jam dari jadwal di atas.

Berbeda dengan gerhana matahari, Gerhana Bulan Total 100% aman dilihat dengan mata telanjang tanpa alat bantu atau filter khusus. Namun, untuk hasil yang maksimal, masyarakat disarankan agar:

1. Mencari Lokasi Lapang untuk memastikan pandangan ke arah Timur-Tenggara tidak terhalang gedung tinggi atau pohon.

2. Memantau Cuaca karena fenomena ini sangat bergantung pada kondisi awan.

3. Gunakan Teropong/Teleskop jika ingin melihat detail kawah bulan yang memerah, penggunaan binokular atau teleskop kecil sangat disarankan.

(Screenshoot tampilan menunggu tayang Live Streeming di Akun Youtube "Planetarium dan Observatorium Jakarta)

Menariknya, di berbagai kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Makassar, komunitas astronomi telah menyiapkan titik pengamatan publik melalui media sosial mereka. Salah Akun Youtube "Planetarium dan Observatorium Jakarta" yang sudah menyiapakan live streeming tunggu tayang dengan judul "Ramadan Bersama Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026".

Kementerian Agama juga telah mengeluarkan himbauan bagi umat Islam melalui berbagai media untuk melaksanakan Salat Khusuf (salat gerhana) sesuai dengan protokol yang berlaku di daerah masing-masing. Jadi gerhana bulan kali adalah momen langka, selain untuk edukasi sains sekaligus juga menjadi refleksi spiritual dibulan ramadhan.

Rekomendasi Berita