Louis Margot, Perahu, dan Laut yang Bersaksi

  • 09 Feb 2026 17:48 WIB
  •  Tual

RRI.CO.ID, Langgur - Ia tiba tanpa mesin, tanpa layar bermotor, dan tanpa jadwal pasti. Di pesisir Ohoidertawun, Kepulauan Kei, seorang pendayung samudra asal Swiss bernama Louis Margot mengakhiri satu etape panjang perjalanannya. Perjalanan yang digerakkan sepenuhnya oleh kekuatan manusia dan keyakinan bahwa laut masih bisa dilalui dengan cara-cara purba, Senin (9/2/2026).

Louis Margot adalah penggagas Human Impulse, sebuah proyek keliling dunia yang ia tempuh dengan mendayung di laut dan bersepeda di daratan. Targetnya nyaris tak masuk akal, menempuh hampir 40 ribu kilometer dengan tenaga manusia, sekaligus melampaui rekor dunia perjalanan serupa yang saat ini berada di angka lima tahun sebelas hari.

Bagi Louis, Human Impulse bukan sekadar tantangan fisik. Ia adalah cara keluar dari kehidupan yang terasa hampa. Di Swiss, hari-harinya dihabiskan di balik meja kantor, rutinitas yang rapi, stabil, namun sunyi makna.

“Bekerja, pulang ke rumah, dan semuanya berlalu begitu cepat. Itu bukan hidup bagi saya,” ujarnya dalam konferensi pers di Vila Manoa Kei, Sabtu (7/2/2026).

Keputusan meninggalkan kehidupan lamanya tidak datang seketika. Ide berkeliling dunia dengan mendayung dan bersepeda sudah lama terlintas, tetapi selalu tertunda. Sampai suatu hari ia bertemu seorang atlet yang telah lebih dulu mengelilingi dunia.

“Tatapan mata atlet itu memberi saya keyakinan. Saat itu saya tahu, inilah yang akan saya lakukan,” katanya.

Setahun penuh dihabiskan untuk persiapan. Louis merancang perahu dayung yang mampu membawanya melintasi samudra, mengundurkan diri dari pekerjaannya, dan mencari dukungan sponsor. Setelah itu, laut menjadi rumah sekaligus medan ujian.

Sebagai mantan Juara Dunia Junior Dayung, Louis telah menyeberangi Samudra Atlantik sejauh sekitar 5.000 kilometer seorang diri. Namun tantangan terberat justru menantinya di Samudra Pasifik. Lebih dari 11.000 kilometer ia tempuh, dengan waktu lebih dari 250 hari berturut-turut di laut. Total, lebih dari 300 hari hidup dalam kemandirian samudra, mendayung antara delapan hingga empat belas jam sehari, bertahan dengan makanan kering, panas matahari, dan cuaca yang tak menentu.

Kesunyian menjadi ujian tersendiri. Louis memilih tidur di siang hari untuk menghindari terik matahari, lalu mendayung di malam hari dalam gelap dan senyap. Ia bercerita pernah diikuti seekor hiu selama hampir sebulan. Rasa takut, depresi, dan bayang-bayang kegagalan kerap menghampiri.

“Saya harus terus bergerak, meski rasa takut itu selalu ada,” ucapnya.

Namun justru di tengah kesunyian itulah, Louis menemukan makna yang lebih dalam. Ia mulai memahami bagaimana leluhur manusia, khususnya para pelaut Austronesia mampu bermigrasi lintas samudra hanya dengan perahu sederhana dan membaca alam.

“Perjalanan ini membuat saya sadar betapa luar biasanya manusia di masa lalu,” katanya.

Kedatangannya di Kepulauan Kei sendiri tidak direncanakan. Saat bertolak dari Raja Ampat, angin dan arus laut memaksanya mengikuti arah samudra. Dengan hanya mengandalkan dayung, melawan arus bukan pilihan. Empat belas hari kemudian, ia berlabuh di Pantai Ohoidertawun, tepat di depan Vila Manoa Kei.

“Saya tidak merencanakan Kei, tapi Kei menerima saya,” ujar Louis. Ia mengaku terkesan dengan lanskap alam dan sambutan masyarakat. “Saya merasa seperti pulang ke rumah,” katanya.

Di Kei, perjalanan Louis bertemu dengan ingatan yang lebih tua dari peta modern. Di sekitar Ohoidertawun, tebing dan ceruk batu menyimpan lukisan kuno, siluet manusia, simbol abstrak, dan dugaan bentuk perahu yang menandai wilayah ini sebagai ruang persinggahan Austronesia sejak ribuan tahun lalu. Angin pasat timur dan arus laut yang mengalir ke barat, yang kini membawanya ke Kei, adalah koridor yang sama yang dahulu digunakan para pelaut leluhur.

Untuk menandai kedatangan Louis Margot, Manoa Kei menyelenggarakan pertemuan budaya yang mempertemukan tokoh adat, musisi tradisional, pembuat perahu, dan komunitas dari berbagai desa. Nyanyian, musik, dan tarian dari Desa Revav dan Kelanit mengalun sebagai bentuk sambutan hospitalitas yang tidak sekadar menerima tamu, tetapi mengakui perjalanan sebagai bagian dari ingatan bersama.

Bagi Louis, Kei bukan hanya titik singgah. Ia adalah cermin tentang bagaimana manusia, laut, dan ingatan saling terhubung. Dalam keheningan samudra dan hangatnya sambutan di pesisir, Human Impulse menemukan maknanya, bahwa bergerak dengan kecepatan manusia bukan kemunduran, melainkan cara untuk kembali memahami asal-usul kita sendiri.

Rekomendasi Berita