Nol Kasus Super Flu, Dinkes Tuban Tetap Waspada
- 27 Jan 2026 13:22 WIB
- Tuban
RRI.CO.ID, Tuban - Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Tuban memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus super flu di wilayah Kabupaten Tuban. Hal itu disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2) Dinkes Tuban, Afifah Ratna Sari, saat menyikapi adanya laporan kasus super flu di sejumlah daerah di Jawa Timur.
Afifah menjelaskan, bahwa untuk memastikan seseorang terpapar super flu, sampel pasien harus dikirim ke Jakarta karena fasilitas pemeriksaan khusus belum tersedia di daerah. Pengambilan sampel dilakukan melalui metode swab, guna mengetahui secara pasti jenis virus yang menginfeksi.
“Super flu merupakan infeksi virus influenza, yang termasuk subvarian baru dari H3N2 subklade K, hasil dari mutasi genetik virus influenza. Karena keterbatasan alat uji di daerah, pemeriksaan lanjutan harus dilakukan di laboratorium rujukan nasional,” jelasnya, Selasa, 27 Januari 2026.
Ia menambahkan, gejala super flu hampir serupa dengan flu biasa, namun tingkat keparahannya lebih tinggi dan masa penyembuhannya cenderung lebih lama. Sebab, flu pada umumnya dapat sembuh dengan sendirinya melalui daya tahan tubuh tanpa penggunaan antibiotik.
“Gejala super flu yang muncul terasa lebih berat. Tapi sampai saat ini penyakit ini juga dilaporkan tidak menyebabkan kematian,” ujarnya.
Berdasarkan data terkini, tercatat 18 kasus super flu di wilayah Jawa Timur, namun Kabupaten Tuban masih dalam kondisi aman dan belum ditemukan kasus serupa. Meski demikian, Dinkes Tuban mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan langkah-langkah pencegahan, terutama saat berada di tempat keramaian.
Di antaranya dengan menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta mengonsumsi makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh. “Upaya pencegahan dan pengendalian super flu pada prinsipnya sama seperti saat penanganan Covid-19, yaitu dengan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat,” katanya.
Dinkes Tuban juga terus melakukan pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Sistem ini digunakan untuk mendeteksi secara cepat potensi peningkatan kasus penyakit menular di masyarakat.
“Ketika ditemukan penyakit menular dengan jumlah kasus yang meningkat, maka kami harus meningkatkan kewaspadaan dan melakukan respons cepat,” katanya.