Petik Kelengkeng Bojonegoro, Pengelolaan Hortikultura Berbasis Keberlanjutan
- 10 Feb 2026 14:47 WIB
- Tuban
RRI.CO.ID, Bojonegoro - Di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, pengembangan budidaya kelengkeng menunjukkan potensi ekonomi yang signifikan. Pada lahan seluas kurang lebih tiga hektare, ratusan pohon kelengkeng tumbuh produktif dan menjadi salah satu contoh keberhasilan pengelolaan hortikultura berbasis keberlanjutan.
Kebun tersebut dikelola dengan pendekatan ramah lingkungan, yang mengutamakan pemanfaatan pupuk organik sejak tahap awal penanaman. Penggunaan bahan kimia dilakukan secara terbatas dan terkontrol guna menjaga keseimbangan ekosistem tanah serta kualitas hasil panen.
Pola budidaya ini terbukti mampu menghasilkan buah dengan mutu yang lebih baik dan aman untuk dikonsumsi. Saat ini, terdapat sekitar 600 pohon kelengkeng dari varietas unggulan Itoh dan New Kristal yang dibudidayakan di lokasi tersebut.
Kedua varietas ini dikenal memiliki karakteristik daging buah yang tebal, rasa manis, serta nilai jual yang tinggi di pasaran. Keunggulan tersebut menjadikan kebun kelengkeng ini sebagai salah satu unit usaha pertanian yang prospektif.
Pengelola kebun, Pujianto, menjelaskan bahwa proses pembentukan dan pematangan buah membutuhkan waktu kurang lebih tujuh bulan. Panen dilakukan satu kali dalam satu tahun dan menjadi periode yang paling dinantikan oleh pengelola. Pada saat panen raya, produksi buah meningkat secara signifikan dengan kualitas yang relatif seragam.
“Dari 64 pohon yang telah masuk kategori produktif, hasil panen dapat mencapai sekitar dua ton kelengkeng dalam satu kali musim panen,” ujarnya, Selasa, 10 Februari 2026.
Ia juga menyampaikan,p dengan harga jual yang stabil di kisaran Rp50.000 per kilogram, usaha budidaya kelengkeng tersebut memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Dengan total populasi 600 pohon, potensi perputaran nilai ekonomi dari sektor ini dinilai cukup besar dan berkontribusi terhadap penguatan ekonomi lokal.
Keberhasilan pengelolaan kebun kelengkeng ini diharapkan dapat menjadi referensi dan inspirasi bagi petani di wilayah Bojonegoro dan sekitarnya untuk mengembangkan komoditas hortikultura unggulan melalui sistem budidaya semi-organik.
Selain meningkatkan pendapatan petani, model ini juga mendukung terwujudnya pertanian berkelanjutan dan kemandirian ekonomi desa.