Hampir Separuh Warga Indonesia Alami 'Emotional Eating'
- 01 Mar 2026 09:56 WIB
- Wamena
RRI.CO.ID, WAMENA – Tren gaya hidup sehat di Indonesia menghadapi tantangan besar. Berdasarkan laporan terbaru dari Health Collaborative Center (HCC), hampir setengah dari warga Indonesia memiliki kebiasaan emotional eating, yaitu kecenderungan makan berlebih sebagai respon terhadap perasaan, bukan karena lapar fisik.
Dalam survei daring yang melibatkan 1.158 responden berusia 20–59 tahun di 20 provinsi, tercatat sebanyak 47% responden mengaku sering makan untuk meredakan emosi seperti stres, sedih, atau marah.
Temuan ini menyoroti pergeseran perilaku konsumsi pada kelompok produktif. Studi tersebut mengungkapkan bahwa kebiasaan emotional eating lebih dominan ditemukan pada responden dengan usia di bawah 40 tahun.
Sebaliknya, sekitar 53% responden lainnya tergolong sebagai mindful eater, yakni individu yang makan dengan kesadaran penuh dan mampu mengenali kebutuhan nutrisi tubuhnya.
Risiko Stres Meningkat hingga 2,5 Kali Lipat
Kebiasaan makan karena emosi bukan sekadar masalah berat badan, melainkan alarm bagi kesehatan mental. Data menunjukkan bahwa seorang emotional eater memiliki:
- 2 kali lipat risiko mengalami stres dibandingkan mereka yang makan secara teratur.
- 2,5 kali lipat risiko stres lebih tinggi jika mereka sedang menjalani program diet.
Hal ini menunjukkan bahwa menekan emosi melalui makanan justru menciptakan lingkaran setan (vicious cycle) yang memperburuk kondisi psikologis seseorang.
Mindful Eating sebagai Solusi Regulasi Emosi
Secara psikologis, solusi utama untuk mengatasi fenomena ini adalah dengan mempraktikkan mindful eating.
"Mindful eating berarti makan dengan penuh kesadaran terhadap rasa, tekstur, serta peka terhadap sinyal lapar dan kenyang yang dikirimkan oleh tubuh," tulis laporan tersebut.
Praktik ini sangat berkaitan erat dengan kemampuan regulasi emosi. Dengan melatih kesadaran saat makan, seseorang akan menjadi lebih peka terhadap kondisi dirinya sendiri dan tidak bersifat reaktif terhadap pemicu stres lingkungan.