Melestarikan Dolanan Anak di tengah Gempuran Digital
- 02 Mar 2026 19:33 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta- Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, anak-anak kini lebih akrab dengan gawai dan permainan digital dibandingkan permainan tradisional. Kondisi ini mendorong berbagai pihak di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk kembali menghidupkan dolanan anak sebagai bagian dari warisan budaya.
Dolanan anak bukan sekadar hiburan semata, melainkan sarana pendidikan karakter yang sarat nilai. Melalui permainan tradisional, anak-anak belajar kebersamaan, sportivitas, ketangguhan mental, serta menghargai proses.
Sejumlah permainan seperti Cublak-cublak Suweng, Jamuran, Engklek, Gobak Sodor, hingga Dakon masih dikenalkan di berbagai sekolah dan komunitas budaya di Yogyakarta. Permainan tersebut bukan hanya menghadirkan kegembiraan, tetapi juga menjadi media pembelajaran sosial dan spiritual lintas generasi.
Setiap gerak, lagu, dan aturan dalam dolanan anak menyimpan nilai filosofis yang mendalam. Anak-anak diajak berpikir strategis, bersabar menunggu giliran, serta menjunjung tinggi kejujuran dalam bermain.
Sugeng, seorang pelestari permainan anak di Yogyakarta, menyampaikan bahwa setiap permainan memiliki makna tersendiri. “Permainan seperti dakon mengajarkan anak untuk rajin menabung, menyusun strategi, dan mengatur keuangan dengan bijak,” ujarnya Senin, 2 Maret 2026.
Ia menambahkan bahwa nilai-nilai tersebut sangat relevan dalam kehidupan modern saat ini. Melalui permainan tradisional, anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga belajar memahami tanggung jawab dan perencanaan masa depan.
Upaya pelestarian dolanan anak kini terus digalakkan melalui festival budaya, kegiatan sekolah, hingga komunitas masyarakat. Harapannya, anak-anak Yogyakarta tetap mengenal akar budayanya meski hidup di tengah arus digitalisasi yang kian deras.