Ciamsi Warnai PBTY XXI di Ketandan

  • 03 Mar 2026 15:00 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI menghadirkan beragam tradisi khas Tionghoa di Rumah Budaya, kawasan Ketandan, Senin, 2 Maret 2026. Salah satu yang menarik perhatian pengunjung adalah tradisi Ciamsi, metode peramalan klasik yang sarat nilai filosofi dan refleksi kehidupan. Tradisi ini diperkenalkan sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat luas.

Ciamsi dikenal sebagai metode peramalan menggunakan batang-batang bambu bernomor yang dikocok dalam sebuah tabung. Angka yang keluar kemudian merujuk pada syair atau sajak tertentu yang memuat pesan moral dan nasihat kehidupan. Praktik ini telah lama menjadi bagian dari tradisi Tionghoa dan diwariskan secara turun-temurun.

Dalam pelaksanaannya di PBTY XXI, pengunjung tidak sekadar diajak mencoba pengalaman meramal. Setiap peserta yang memperoleh nomor Ciamsi akan dibacakan syair yang mengandung makna reflektif. Isi sajak tersebut umumnya berupa ajakan untuk introspeksi, memperbaiki kesalahan, hingga bersikap lebih bijak dalam menghadapi persoalan hidup.

Reynald selaku panitia PBTY, menegaskan bahwa Ciamsi bukan sekadar praktik meramal masa depan. “Melalui Ciamsi, masyarakat tidak hanya mendapatkan ramalan, tetapi juga belajar tentang pesan moral melalui sajak-sajak yang ada di dalamnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tingkat akurasi ramalan bukan menjadi fokus utama dalam tradisi tersebut. Menurutnya, Ciamsi lebih tepat dimaknai sebagai sarana pengingat agar individu mampu mengevaluasi diri. “Yang terpenting adalah bagaimana pesan dalam syair itu bisa menjadi bahan perenungan dan memperbaiki perilaku sehari-hari,” katanya.

Pesan-pesan yang muncul dalam syair Ciamsi dinilai relevan dengan kehidupan modern. Ajakan untuk lebih berhati-hati dalam pergaulan, bersabar dalam menghadapi ujian, atau memperbaiki kekeliruan menjadi nilai universal yang dapat diterapkan siapa saja. Karena itu, panitia menekankan pentingnya memandang Ciamsi sebagai warisan budaya, bukan praktik tahayul semata.

Melalui kehadiran tradisi Ciamsi di PBTY XXI, Masyarakat khususnya generasi muda diharapkan dapat mengenal lebih dekat kekayaan budaya Tionghoa. Kegiatan ini dapat disaksikan dan diikuti langsung selama rangkaian acara berlangsung di Rumah Budaya Ketandan, sekaligus menjadi ruang belajar tentang sastra tradisional yang penuh hikmah kehidupan.

Rekomendasi Berita