Puteri Indonesia DIY 2026 Anggap Nilai Luhur Budaya Relevan dengan Modernitas

  • 06 Mar 2026 16:35 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Di tengah gempuran modernisasi dan perubahan gaya hidup yang serba cepat, tantangan untuk menjaga identitas bangsa menjadi krusial. Menanggapi fenomena ini, Pro4 RRI Yogyakarta melalui siaran "Kawruh" menghadirkan diskusi mendalam bersama dua sosok perempuan inspiratif, Almas Azzahra, Puteri Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2026, serta Susanti, SPd, MPd, seorang pelukis sekaligus pendidik, pada Jumat, 6 maret 2026 di Studio Podcast RRIYogyakarta.

"Obrolan Budaya" yang menyoroti tentang menghidupkan nilai-nilai luhur dalam gaya hidup modern misalnya seperti integritas, gotong royong, dan kesopanan tetap menjadi fondasi penting yang relevan di kehidupan modern.

Almas Azzahra menegaskan, kemajuan teknologi seharusnya tidak menjadi jurang pemisah antara generasi muda dan budaya. Menurutnya, modernitas justru harus menjadi sarana untuk memperkokoh akar budaya agar mampu bersaing secara terhormat di level global.

"Kita harus bisa mengikuti perkembangan zaman, tapi juga tidak boleh melupakan akar budaya kita sendiri," ujar Almas.

Ia menaruh perhatian besar pada pelestarian wastra, khususnya batik. Almas menekankan pentingnya edukasi mengenai proses pembuatan batik yang otentik.

"Satu hal yang harus terus kita gaungkan adalah pemahaman bahwa yang disebut batik adalah proses penggunaan malam (lilin, red), bukan sekadar kain bermotif batik hasil produksi mesin. Nilai filosofisnya ada pada proses tersebut," ujarnya

Susanti seorang pelukis dan pendidik membagikan perspektifnya dari kacamata pendidik. Ia percaya agar budaya tidak dianggap kuno oleh generasi muda, diperlukan inovasi dalam penyampaiannya.

Di tingkat sekolah menengah, Susanti menerapkan metode unik, seperti sistem presensi berbasis barcode yang memuat soal-soal angka Jawa. Ia juga mengenalkan desain ornamen khas Yogyakarta dan teknik membatik tulis sederhana dan dikolaborasikan dengan gambar atau keinginan seperti jiwa para siswa.

“Warisan budaya itu tidak hanya berbentuk benda, tapi juga karakter dan nilai-nilai yang harus kita rawat sejak dini karena itu merupakan identitas bangsa,” ujar Susanti.

Kedua narasumber sepakat bahwa perempuan memegang peranan sentral sebagai pilar pelestarian budaya. Sebagai pendidik pertama dalam lingkungan keluarga, perempuan memiliki kemampuan untuk menanamkan budi pekerti dan kelembutan hati yang dibalut dengan ketangguhan.

Melalui kreativitas dan keberanian bersuara, keterlibatan perempuan dalam menjaga warisan budaya merupakan bentuk kepemimpinan nyata. Harapannya, generasi muda Indonesia dapat terus adaptif terhadap zaman tanpa harus kehilangan jati diri.

Rekomendasi Berita