Suratdali, Ikon Antagonis Kethoprak RRI Yogyakarta Setia Menjaga Seni Tradisi

  • 08 Mar 2026 12:13 WIB
  •  Yogyakarta

Suratdali, Ikon Antagonis Kethoprak RRI Yogyakarta Setia Menjaga Seni Tradisi

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Menekuni sebuah pekerjaan atau profesi apa pun tentu membutuhkan bekal, ketekunan, serta kesiapan menghadapi berbagai konsekuensi. Hal yang sama juga berlaku dalam dunia seni. Setiap seniman dituntut memiliki dedikasi, kesabaran, dan totalitas untuk menjaga serta mengembangkan karya yang digelutinya. Nilai-nilai itulah yang selama puluhan tahun dijalani oleh Suratdali, seniman senior kethoprak dari keluarga kesenian Jawa di RRI Yogyakarta.

Bagi Suratdali, kecintaan terhadap seni tradisi telah tumbuh sejak usia remaja. Ia mulai belajar berbagai cabang kesenian Jawa, terutama seni tari dan karawitan. Dari proses belajar itulah benih kecintaannya terhadap panggung tumbuh dan berkembang.

“Sejak remaja saya memang sudah belajar seni tradisi, khususnya seni tari dan karawitan,” kata Suratdali.

Perjalanan hidupnya di dunia kethoprak bermula sekitar tahun 1966. Saat itu, masyarakat di kampungnya tengah mempersiapkan pementasan kethoprak untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Tanpa ragu, Suratdali muda ikut ambil bagian dalam pertunjukan tersebut.

Tak disangka, penampilannya di atas panggung justru menarik perhatian masyarakat. Kemampuannya berakting membuat namanya mulai dikenal, terutama di lingkungan tempat tinggalnya. Sejak saat itu, ia semakin sering diminta membantu berbagai pementasan kethoprak di sejumlah daerah.

Kesempatan yang lebih besar datang ketika seorang seniman senior kethoprak, Ki Gito Gati, melihat potensinya. Suratdali kemudian diajak bergabung dalam rombongan kesenian PS Bayu yang dipimpin oleh Ki Gito Gati. Dari sinilah ia mulai menekuni seni kethoprak secara lebih serius.

Di bawah bimbingan para senior, kemampuan akting Suratdali semakin terasah. Pengalaman panggungnya pun semakin matang hingga akhirnya pada tahun 1983 ia diterima sebagai karyawan di RRI Yogyakarta.

Kemampuan akting Suratdali di atas panggung kethoprak memang sudah tidak diragukan lagi. Selama bertahun-tahun, namanya melekat kuat dengan peran antagonis. Ia bahkan dikenal sebagai ikon tokoh berkarakter “brasak” atau kasar dalam seni pertunjukan tradisional tersebut.

Namun di balik citra garang yang sering ia tampilkan di panggung, Suratdali justru memiliki pribadi yang berbeda.

“Saya sendiri tidak tahu kenapa mendapat julukan itu. Mungkin karena postur tubuh dan raut muka saya yang terlihat garang. Padahal aslinya saya ini lemah lembut,” ujarnya sambil tertawa.

Menurutnya, yang ia lakukan hanyalah menjalankan peran yang diberikan oleh sutradara dengan maksimal dan penuh totalitas. Bahkan, ia pernah mengalami kejadian unik ketika seorang seniwati yang menjadi lawan mainnya merasa benar-benar takut karena perannya yang terlalu meyakinkan.

“Dulu pernah ada seniwati yang saya gandrung di panggung sampai ketakutan dan tidak mau dipertemukan lagi dengan saya di panggung,” ucapnya sambil tertawa lepas.

Meski kini telah memasuki masa purna tugas sebagai karyawan RRI Yogyakarta, semangat Suratdali untuk berkesenian tidak pernah surut. Ia masih aktif menerima undangan pentas di berbagai daerah, terutama di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan sekitarnya.

Tidak hanya itu, pengalaman panjangnya juga membuatnya kerap diminta menjadi narasumber bagi para seniman muda. Ia juga beberapa kali dipercaya menjadi juri dalam berbagai festival kethoprak.

Bagi Suratdali, kunci utama dalam berkesenian adalah totalitas. Seorang seniman harus mampu melepaskan ego pribadinya saat berada di atas panggung.

“Kuncinya adalah totalitas. Saat kita di panggung, kita harus bisa melupakan pribadi kita sendiri,” ujarnya.

Nilai itulah yang selalu ia tanamkan kepada generasi muda penerus seni tradisi, terutama seni kethoprak yang sarat dengan pesan moral dan tuntunan kehidupan.

Selama masih memiliki kemampuan dan masyarakat masih menerima karyanya, Suratdali bertekad untuk terus berkarya dan menjaga seni tradisi yang telah menjadi bagian dari hidupnya.

“Sampai kapan pun saya akan tetap berkarya, selama masih mampu dan masih diterima oleh masyarakat. Semoga apa yang saya lakukan ini bisa bermanfaat bagi banyak orang,” kata Suratdali menutup perbincangannya bersama RRI.

Rekomendasi Berita