Pelajari Makna Suara Klakson Sebelum ke Jogja

  • 11 Mar 2026 09:18 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Meskipun suasana jalan di Yogyakarta sering mengalami kemacetan, namun jarang sekali terdengar suara klakson bersahut-sahutan seperti yang terjadi di kota besar lainnya di Indonesia.

Salah seorang tukang parkir di Jogja, Giman, Rabu 11 Maret 2026 mengatakan, Sepinya suara klakson di Jogja karena kuatnya budaya santun, sabar, dan kebiasaan menghormati hak pengendara lain.

“Orang jogja ini kalau ada yang sering klakson di jalan malah aneh mbak, ini mesti orang luar jogja yang prilakunya kayak gini”, ujarnya.

Sepinya suara tan-tin di jalan raya, membuat fitur klakson di kendaraan jarang digunakan oleh pengendara di Jogja, fitur ini hanya digunakan saat tertentu saja, misalnya sebagai sapaan atau tanda “permisi” kepada orang lain.

Dikutip dari laman mojok.co, Ada beberapa moment mengapa klakson akhirnya dibunyikan di Jogja :

  1. Menyapa kenalan atau kerabat

Fungsi utama klakson di Jogja adalah untuk menyapa orang yang dikenal. Bisa dibilang inilah hal yang paling universal alias semua orang Jogja tahu, akrab, dan paham fungsi klakson yang satu ini. Cara membunyikan klakson biasanya cuma satu kali saja, sambil dilanjutkan kalimat “monggo” atau menyapa nama orang yang dikenal tersebut.

  1. Klakson sebagai pengingat orang yang kurang fokus di jalan.

    Beberapa orang menggunakan klakson untuk memperingatkan pengendara yang sekiranya berpotensi membahayakan pengendara lainnya, tujuannya agar pengendara yang terlihat bingung atau kurang fokus bisa tersadar akan bahaya yang mengintai. Misalnya mengingatkan orang yang lupa mematikan lampu sein, sibuk menatap layar hp sambil berkendara atau lupa mengembalikan standar motor keposisi semula sehingga membahayakan dirinya.

  2. Peringatan untuk mematuhi rambu lalu lintas.

    Kendaraan dari luar kota yang belum terbiasa dengan jalanan di Jogja, biasanya berhenti saat lampu merah menyala. Padahal, di situ tertera tulisan “belok kiri jalan terus” atau “belok kiri ikuti lampu “Apill”. Jika tidak di klakson, pengendara ini akan mengganggu sirkulasi kendaraan lainnya sehingga menimbulkan kemacaten. Saat itulah biasanya pengendara di Jogja akan menegur dengan cara membunyikan klakson. Cara membunyikan klakson untuk fungsi ini tergantung pada situasi. Jika kesalahannya sepele, cukup klakson satu kali lalu peringatkan. Tapi kalau kesalahannya sangat membahayakan pengendara lain, misalnya tiba-tiba berbelok tanpa melihat situasi lalu lintas atau main potong jalan, biasanya klakson panjang akan berbunyi.

  3. Memberi tanda kepada kendaraan lain.

Saat pengendara melewat perempatan tanpa lampu APILL, biasanya ia akan menyebrang dengan cara membunyikan klakson. Ini bertujuan untuk memberitahu pengendara dari arah lain yang tidak terlihat. Umumnya klakson hanya dibunyikan satu dua kali dengan durasi pendek.

Ucapan terima kasih.

Orang Jogja biasanya membunyikan klakson sebagai ungkapan terima kasih kepada kendaraan lain yang mengalah dan memberi jalan terlebih dahulu. Klakson dibunyikan sekali dengan durasi pendek, sambil mengangkat tangan atau menganggukkan kepala kepada pengendara tersebut.

Tanda permisi kepada makhluk halus.

Siapa sangka klakson di Jogja bukan cuma untuk manusia, melainkan juga untuk makhluk halus. Banyak orang Jogja yang membunyikan klakson ketika melintasi jembatan tanpa penerangan, samping kuburan, atau segala tempat yang dinilai gelap dan mistis. Fungsi membunyikan klakson yang satu ini mirip seperti “nderek langkung” atau “permisi”, tapi bukan kepada manusia, melainkan “mbah” penunggu.

Masyarakat Jogja memang dikenal sabar dan santun, klakson dianggap sebagai bentuk gangguan (polusi suara) daripada alat bantu lalu lintas, sehingga pengguna kendaraan di Jogja, terutama plat AB, hanya menggunakan klakson di saat tertentu saja.

Rekomendasi Berita