Samrah Sikumbang Janti : Nada Mengalun Puitis di Tenabang
- 23 Feb 2026 23:43 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Sanggar Samrah Tenabang “Sikumbang Janti” resmi berdiri pada 13 Juli 2019 di kawasan Kebon Kacang, Tanah Abang. Berawal dari inisiatif Bang Irfan dan Bang Roni Adi, sanggar ini hadir sebagai ikhtiar tulus untuk menghidupkan kembali pesona musik Samrah yang mulai meredup di tanah kelahirannya. Nama “Sikumbang Janti” sendiri terinspirasi dari lirik puitis karya M. Mashabi dalam lagu “Untuk Bungamu”, serta menggambarkan keindahan kumbang bersayap hijau berkilau saat tersentuh cahaya—sebuah simbol harapan agar Samrah kembali bersinar.
Hilwatun atau di sapa Hilwa Jawas, Pemimpin Sanggar Samrah Tenabang Sikumbang Janti mengatakan, "Menurut para pendirinya, sanggar ini didirikan bukan sekadar membentuk kelompok musik, tetapi sebagai gerakan budaya. kita ingin karya-karya maestro seperti Bang Mashabi tetap dikenal generasi muda. Samrah jangan sampai hanya jadi cerita,” ujar Hilwa disaat wawancara dalam acara Obrolan Komunitas, melalui sambungan telp, Senin, 23 Februari 2026. Kesadaran bahwa warisan budaya tak hanya soal silat dan tari, tetapi juga musik, menjadi landasan utama berdirinya sanggar ini di jantung Tanah Abang.
Saat ini, Sanggar Sikumbang Janti beranggotakan 12 orang dengan syarat sederhana untuk bergabung: niat belajar, menyambung silaturahmi, serta sabar dan tekun berlatih. Ide-ide kegiatan biasanya digagas oleh Bang Roni Adi dan Bang Irfan, dengan konsep membawakan lagu-lagu lawas karya M. Mashabi, Husein Bawafie, dan Munif Bahasuan. Lagu-lagu tersebut dihidupkan kembali melalui sentuhan harmonisasi alat musik yang tersedia, meski keterbatasan pemain harmonium dan bass betot membuat mereka harus beradaptasi menggunakan organ tunggal.
.webp)
Perjalanan sanggar tentu tak lepas dari suka dan duka. Keterbatasan dana untuk merawat atau mengganti instrumen tradisional yang mulai langka menjadi tantangan tersendiri. (Foto: Hilwa)
Baca Juga : Tanjidor Betawi Minan Lestarikan Musik Tradisi sejak 1973
Perjalanan sanggar tentu tak lepas dari suka dan duka. Keterbatasan dana untuk merawat atau mengganti instrumen tradisional yang mulai langka menjadi tantangan tersendiri. Regenerasi pemain yang menguasai teknik khas juga menjadi pekerjaan rumah besar. “Namun semua terbayar saat nada-nada klasik kembali mengalun dan warga Tanah Abang tersenyum bangga,” ungkap Bang Irfan. Dedikasi itu telah membuahkan hasil melalui penampilan rutin di berbagai event Lebaran Tenabang sejak 2019 hingga 2025, serta pagelaran di Pusat Grosir Blok A Tanah Abang bersama Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) dan PD Pasar Jaya.
Ke depan, Sanggar Sikumbang Janti berharap musik Samrah tak sekadar menjadi nostalgia, tetapi tetap hidup sebagai permata budaya yang memperhalus jiwa masyarakat Jakarta di tengah derasnya modernisasi. Mereka mendambakan dukungan nyata untuk peremajaan instrumen dan penyelenggaraan workshop guna melahirkan talenta muda baru. “Mari bersama kita jaga agar identitas Tanah Abang sebagai kantong budaya Betawi tetap lestari,” ajak mereka. Seperti pantun yang mereka gaungkan:
Pergi ke pasar beli baju baru
Singgah sebentar di Tanah Abang
Mari lestarikan musik Samrah yang seru
Biar budaya Betawi terus berkumandang.
Baca Juga : Menjaga Warisan Menguatkan Regenerasi Silat Tradisional