Arsitek Minang Mendunia, Tetap Jaga Akar

  • 23 Feb 2026 22:54 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Dari kaki Gunung Marapi hingga panggung internasional, perjalanan Zulfitri Daruddin adalah kisah tentang akar yang tak pernah tercerabut. Lahir di Padang Panjang, 27 Februari 1963, Zulfitri tumbuh di Aie Angek dalam keluarga petani sederhana. Ayahnya Daruddin dan ibunya Nurbaya membesarkannya bersama empat saudara lain dengan nilai yang sederhana tapi kokoh: kerja keras, kebersamaan, dan pendidikan.

Masa kecilnya jauh dari gemerlap kota. Ia sekolah di desa, bermain bola di tanah lapang, berlarian di sawah, hingga membantu orang tua di ladang. Suasana gotong royong yang kental membentuk karakter yang hangat sekaligus tangguh. “Satu kampung seperti saudara,” kenangnya saat hadir langsung di Studio Pro 4 Radio Republik Indonesia Jakarta, Jalan Medan Merdeka Barat, Rabu malam 18 Februari 2026.

Di balik kehidupan desa yang sederhana, ada satu kebiasaan yang menonjol: menggambar. Dinding rumah, meja, hingga buku sekolah menjadi “kanvas liar” masa kecilnya. Ia mengaku sering dimarahi karena terlalu asyik mencoret. Namun di situlah bakatnya terasah. Coretan-coretan itu bukan sekadar kenakalan anak kampung, melainkan tanda arah hidupnya.

Tahun 1981, Zulfitri diterima di Fakultas Teknik Universitas Indonesia untuk menempuh studi Arsitektur. Dari sinilah perjalanannya memasuki dunia profesional dimulai. Arsitektur bukan hanya profesi baginya, tetapi ruang untuk menjaga identitas budaya Minangkabau sekaligus membawanya berdialog dengan dunia modern.

Sebagai arsitek Minang, Zulfitri dikenal konsisten mengangkat filosofi rumah gadang dan nilai ruang komunal dalam rancangan-rancangannya. Ia percaya bangunan bukan sekadar beton dan baja, melainkan representasi cara hidup. Di tengah arus globalisasi yang sering menyeragamkan bentuk kota, ia memilih tetap berpijak pada akar budaya.

Kisahnya menjadi pengingat bahwa modernitas tidak harus memutus tradisi. Dari desa kecil berhawa sejuk di lereng Marapi, seorang anak petani bisa menembus batas geografis tanpa kehilangan identitas. Dalam dunia arsitektur yang kerap terpukau pada tren global, Zulfitri justru menunjukkan: masa depan bisa dibangun tanpa melupakan rumah.

Zulfitri Hadir langsung ke studio Pro 4 RRI Jakarta, didampingi istri tercinta. (Foto : Dermawan)

Baca Juga: Jejak Muda Penjaga Tari Minangkabau

Dalam perjalanan kariernya, Zulfitri terlibat dalam berbagai proyek besar, di antaranya menorehkan master plan di kawasan Segitiga Senen, perencanaan Hotel Lumire, kampus pariwisata di Bali, hingga proyek prestisius Hotel dan Apartemen Dharmawangsa serta masih banyak lainnya. Ia bahkan berkesempatan melakukan studi dan bekerja sama dengan perencana dari Amerika Serikat serta merasakan pengalaman di studio arsitektur di San Francisco. “Setiap proyek adalah proses belajar. Saya bersyukur bisa terlibat dalam banyak hotel berbintang empat dan lima,” ungkapnya.

Meski berkiprah luas, kecintaannya pada ranah Minang tak pernah luntur. Ia aktif membantu kegiatan arsitektur secara non-profit di Sumatera Barat, termasuk mendukung renovasi rumah gadang dan membantu yayasan atau sekolah. Pesan orang tuanya untuk selalu berpegang pada agama, menjaga sopan santun, dan membantu sesama terus ia pegang teguh serta tularkan kepada anak cucunya. “Mari bersama kita bangun dan jaga budaya serta alam Minangkabau yang kaya dan indah ini, demi kemajuan ranah Minang dan Indonesia,” tutupnya penuh harap.

Baca Juga: Menjaga Warisan Menguatkan Regenerasi Silat Tradisional

Rekomendasi Berita