UpScrolled dan Perlawanan Shadowban
- 18 Feb 2026 22:29 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Bayangkan kamu berbicara lantang di media sosial, tapi suaramu seperti tenggelam tanpa jejak. Istilahnya shadowban. Konten tetap tayang, tetapi jangkauannya dipersempit tanpa pemberitahuan jelas. Di tengah keresahan itu, UpScrolled muncul dan langsung meroket ke peringkat satu App Store, melampaui TikTok, Instagram, dan X. Aplikasi ini diposisikan sebagai ruang alternatif yang mengklaim bebas shadowban. Fenomena shadowban sendiri bukan mitos kosong. Laporan Transparency Center milik TikTok dan penjelasan Meta dalam Community Standards mereka mengakui adanya moderasi algoritmik untuk membatasi distribusi konten tertentu. Di sisi lain, riset Pew Research Center tahun 2023 menunjukkan sebagian besar warga Amerika merasa platform media sosial memiliki terlalu banyak kendali atas apa yang bisa dilihat pengguna. Celah inilah yang dibaca UpScrolled.
Cerita kelahirannya berakar pada momen politik global. Pada akhir 2023, ketika agresi Israel terhadap Palestina memicu gelombang konten solidaritas dan juga disinformasi, banyak kreator mengaku jangkauan mereka turun drastis. Issam Hijazi, teknolog berdarah Palestina, Yordania, dan Australia, menyebut dalam pernyataannya di akun LinkedIn pribadinya bahwa ia resah melihat cerita bermakna tenggelam sementara narasi manipulatif tetap beredar. Ia lalu mengembangkan UpScrolled yang resmi diluncurkan pada 2025. Platform ini membawa dua tab utama, following dan discover, dengan sistem feed kronologis dan distribusi yang diklaim sepenuhnya user driven. Setiap unggahan dijanjikan muncul di seluruh feed pengikut. Mereka juga menekankan perlindungan data, sejalan dengan standar privasi global seperti General Data Protection Regulation di Uni Eropa yang sering dijadikan acuan praktik perlindungan data digital.
Ledakan unduhan membuat aplikasi ini sempat crash. Momentum itu dipicu migrasi pengguna di Amerika Serikat yang kecewa pada TikTok. Kontroversi semakin tajam setelah operasi TikTok di AS diambil alih oleh Oracle, perusahaan yang didirikan Larry Ellison, sosok yang dikenal dekat dengan Donald Trump. Informasi mengenai peran Oracle dalam pengelolaan data TikTok di AS pernah dipaparkan dalam rilis resmi Oracle dan dokumen kesaksian di hadapan Kongres AS terkait Project Texas. Sejumlah kreator mengklaim, melalui unggahan di X dan Instagram pribadi mereka, bahwa konten kritik terhadap Trump dan kebijakan anti imigrasi lebih sering ditinjau atau diturunkan. Meski TikTok melalui Transparency Report membantah adanya sensor politik sistematis, persepsi publik sudah terlanjur terbentuk. UpScrolled memanfaatkan sentimen ini sebagai pembeda.
Kini, pengguna dari Malaysia mulai mengamankan username mereka, terlihat dari tangkapan layar yang beredar di Threads dan X. Pertanyaannya, apakah netizen Indonesia perlu ikut pindah untuk menghindari potensi sensor, misalnya terkait isu politik domestik atau kritik kebijakan publik. Kamu perlu hati hati. Platform bebas sensor bukan berarti bebas risiko. Tanpa moderasi kuat, disinformasi bisa tumbuh cepat, seperti yang diingatkan laporan World Economic Forum Global Risks Report 2024 yang menempatkan misinformasi sebagai risiko global utama. UpScrolled menawarkan kebebasan dan visibilitas. Namun kamu tetap harus menilai arsitektur moderasi, transparansi algoritma, dan komitmen perlindungan data mereka. Migrasi digital bukan soal tren. Ini soal memilih ekosistem yang paling selaras dengan nilai dan kebutuhanmu.