Ruang Seni bertajuk "All That Remains is Us" membuka pintu bagi para desainer grafis
- 25 Feb 2026 06:14 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Di tengah kabar duka bencana yang melanda Sumatra dan Aceh pada awal tahun ini, Sunset Limited di Grand Wijaya Center memilih merespons dengan cara yang paling mereka pahami, yaitu lewat karya. Mengusung tajuk All That Remains is Us, ruang seni ini membuka pintu bagi desainer grafis, seniman visual, ilustrator, dan kolektor untuk bertemu dalam satu tujuan, menggalang dana bagi warga terdampak. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana melalui siaran resmi BNPB awal 2026 mencatat banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatra menyebabkan ribuan warga terdampak dan memicu kebutuhan mendesak akan bantuan logistik serta pemulihan hunian. Di titik inilah seni tidak berhenti sebagai ekspresi, tetapi bergerak menjadi aksi. Sunset Limited meyakini bahwa karya dapat menjadi medium solidaritas yang konkret, bukan sekadar simbol empati.
All That Remains is Us tidak lahir dari proses instan. Program ini dibangun dari eksplorasi dan riset yang berlapis, dari sketsa awal hingga penelusuran arsip dan materi historis. Pendekatan ini selaras dengan pandangan Grant Kester dalam buku Conversation Pieces yang menekankan bahwa praktik seni partisipatoris dapat menciptakan dampak sosial ketika dibangun melalui dialog dan keterlibatan komunitas. Sekitar 20 lebih seniman dan desainer terlibat, di antaranya fffffandy, tab space, vantiani, phantasien, editaatmaja, dan cisaruacreative yang aktif membagikan proses serta karya mereka melalui akun media sosial pribadi masing masing. Setiap karya menjadi jejak proses berpikir. Bukan hanya mencari bentuk visual yang segar, tetapi juga menguji bagaimana ide orisinal dapat dihadirkan sambil tetap membawa misi penggalangan dana.
Format yang dipilih pun tidak kaku. Pameran ini dirancang dalam konsep exhibition dan art digging yang cair dan inklusif. Pengunjung dapat berdialog langsung dengan seniman, menggali cerita di balik karya, lalu memutuskan untuk mengoleksi dengan lebih sadar. Model ini sejalan dengan laporan The Art Basel and UBS Global Art Market Report 2024 yang menyebutkan bahwa interaksi langsung antara seniman dan kolektor meningkatkan kepercayaan serta memperkuat nilai sosial dari transaksi karya seni. Sunset Limited memanfaatkan pendekatan tersebut agar proses pembelian tidak terasa transaksional semata, tetapi menjadi bagian dari gerakan kolektif membantu korban bencana di Sumatra dan Aceh.
Pada akhirnya, All That Remains is Us ingin meninggalkan satu pesan sederhana. Di masa sulit, yang tersisa adalah kita. Kolaborasi lintas disiplin membuktikan bahwa solidaritas dapat dikemas dalam bentuk visual yang kuat dan berdampak nyata. Kamu tidak hanya datang untuk melihat karya. Kamu ikut mengambil bagian dalam proses pemulihan. Dalam konteks Indonesia yang menurut data World Risk Report 2023 dari Bündnis Entwicklung Hilft termasuk negara dengan tingkat risiko bencana tinggi, inisiatif seperti ini relevan dan mendesak. Seni tidak menyelesaikan semua persoalan struktural kebencanaan. Namun ia bisa menjadi penggerak awal yang menghubungkan empati, sumber daya, dan tindakan konkret.