Laboratorium Nongkrong ASICS Cipete
- 25 Feb 2026 06:31 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Akhir pekan ini, budaya nongkrong naik level lewat pop up experience dari ASICS SportStyle Indonesia yang merayakan rilisan ASICS GEL-NYC 2.0. Bertempat di Urban Forest Cipete, ruang ini dikemas seperti laboratorium kreatif. Kamu tidak hanya datang untuk lihat sepatu. Kamu diajak eksperimen. Konsepnya jelas. Built on Heritage. Engineered for Tomorrow. Filosofi ini merujuk pada arsip lari ASICS era 2000 an, dengan upper terinspirasi dari GEL 1050, lalu diperbarui dengan teknologi bantalan FF BLAST PLUS dan SPACE GEL. Dalam keterangan teknologi di situs resmi ASICS, FF BLAST PLUS dirancang lebih ringan dan responsif dibanding generasi sebelumnya. Artinya, sepatu ini bukan hanya nostalgia visual, tetapi juga pembaruan performa untuk kebutuhan gerak harian.
Ruang pop up ini memanfaatkan tren pergeseran fungsi retail menjadi experiential space. Laporan Deloitte Global Powers of Retailing beberapa tahun terakhir menyoroti bahwa brand yang menggabungkan produk dan pengalaman komunitas cenderung membangun loyalitas lebih kuat dibanding model jual beli konvensional. ASICS menerjemahkan insight itu lewat tiga workshop. From Walls to Pages bersama Grafitti ID dan Kimswell mengajak kamu belajar graffiti lettering. Explore and Snap Tour bersama Lab Rana Jakarta membawa peserta berkeliling Cipete sambil memotret dengan kamera analog. Lyric Writing and Beat Workshop bersama Laze dan Mardial Muziek membuka ruang eksplorasi lirik dan produksi musik. Format ini menunjukkan bahwa sepatu diposisikan sebagai bagian dari ekosistem kreatif, bukan sekadar item fashion.
Secara desain, GEL NYC 2.0 memadukan estetika retro dan konstruksi modern. Siluetnya tegas, layering panel memberi kesan teknis, namun tetap fleksibel untuk gaya sehari hari. Jika diuji secara kritis, klaim lifestyle comfort perlu dilihat dari pengalaman langsung. Bantalan empuk tidak selalu berarti stabil untuk semua bentuk kaki. Di sinilah pop up menjadi relevan. Kamu bisa mencoba, bergerak, lalu menilai sendiri. Pendekatan ini lebih jujur dibanding promosi satu arah. Ditambah music performance dari WSATCC, atmosfer laboratorium berubah menjadi ruang temu lintas komunitas.
Pop up experience berlangsung 13 sampai 15 Februari 2026 dengan sistem pre order dan pick up langsung di lokasi. Model distribusi ini mempercepat akses sekaligus menciptakan rasa eksklusif. Pertanyaannya, apakah strategi ini efektif membangun positioning jangka panjang di pasar sneaker lifestyle yang kompetitif. Data Statista tentang pasar global athletic footwear menunjukkan pertumbuhan stabil dalam beberapa tahun terakhir, tetapi persaingan juga makin padat. Keunggulan tidak lagi hanya pada desain. Ia bergeser pada narasi dan komunitas. Jika kamu melihat sepatu sebagai bagian dari identitas kreatif, maka ruang seperti ini memberi konteks baru. Nongkrong tidak lagi pasif. Ia berubah menjadi laboratorium ide dan gerak.