Kecanduan Gadget, Anak Lebih Rentan Terpapar Radiasi Ponsel
- 16 Feb 2026 07:32 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Perkembangan teknologi telekomunikasi yang semakin pesat membuat ponsel atau gadget menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun kini sudah akrab dengan perangkat tersebut. Kemudahan mengakses informasi, hiburan, hingga sarana komunikasi membuat ponsel hampir selalu berada dalam genggaman. Namun di balik manfaatnya, muncul kekhawatiran mengenai dampak radiasi ponsel terhadap kesehatan, khususnya pada anak-anak.
Seperti dikutip dari laman polri.go.id terdapat risiko radiasi ponsel terhadap anak-anak. Disebutkan bahwa penyerapan radiasi pada anak lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya jaringan otak yang masih berkembang, tengkorak kepala yang lebih tipis, serta ukuran tubuh yang lebih kecil.
Radiasi gelombang radio yang dipancarkan ponsel memang berbeda dengan radiasi sinar-X pada rontgen atau CT scan yang telah terbukti berbahaya jika terpapar terlalu sering. Namun, efek jangka panjang radiasi ponsel terhadap kesehatan masih terus diteliti. Anak-anak dianggap lebih rentan karena struktur biologis mereka belum sekuat orang dewasa dalam menangkal paparan gelombang elektromagnetik.
Gangguan Kinerja Otak
Paparan gelombang elektromagnetik dari ponsel disebut dapat menembus bagian dalam otak anak dengan lebih mudah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa berbicara melalui ponsel selama dua menit saja dapat memengaruhi aktivitas listrik di dalam otak anak. Perubahan ini dikhawatirkan berdampak pada suasana hati, konsentrasi, serta kecenderungan perilaku.
Otak manusia dinilai sensitif terhadap radiasi elektromagnetik. Oleh karena itu, perangkat yang memancarkan gelombang tersebut, seperti gadget, dianggap berpotensi mengganggu aktivitas otak, terutama pada anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan kognitif.
Gangguan Pola Tidur
Penggunaan ponsel secara berlebihan juga berpotensi mengganggu pola tidur anak. Anak yang terbiasa bermain gim, menggunakan media sosial, atau melakukan panggilan dalam waktu lama cenderung mengalami kelelahan dan kegelisahan. Paparan cahaya layar dan aktivitas berlebih sebelum tidur dapat menyebabkan anak sulit beristirahat dengan optimal. Akibatnya, anak menjadi mudah mengantuk di siang hari, sulit berkonsentrasi, dan mengalami penurunan prestasi belajar. Pola hidup yang tidak teratur dalam jangka panjang dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental.
Risiko Tumor dan Gangguan Sistem Saraf
Kekhawatiran lain yang muncul adalah kemungkinan meningkatnya risiko tumor, terutama pada area telinga dan otak, bagi anak yang terbiasa menggunakan ponsel dalam jangka waktu lama atau sering menempelkan ponsel ke telinga. Tulang tengkorak dan jaringan pelindung organ vital pada anak yang masih tipis dinilai mampu menyerap radiasi lebih besar dibandingkan orang dewasa. Menurut World Health Organization (WHO), penggunaan ponsel yang berlebihan dikategorikan sebagai kemungkinan faktor risiko terhadap kesehatan, termasuk gangguan sistem saraf dan potensi risiko kanker, meskipun bukti ilmiah masih terus dikaji.
Dampak pada Kesehatan Mental
Selain risiko fisik, penggunaan ponsel tanpa pengawasan juga berdampak pada kesehatan mental anak. Akses bebas ke media sosial dapat meningkatkan risiko terjadinya perundungan daring atau cyberbullying. Dalam banyak kasus, korban cyberbullying mengalami gangguan emosional, kecemasan, bahkan depresi.
Ketergantungan atau kecanduan gadget juga dapat memicu berbagai masalah psikologis, seperti sulit fokus, gangguan kecemasan, perubahan suasana hati ekstrem, hingga perilaku agresif. Anak yang terlalu sering menggunakan gadget cenderung mengalami kesulitan bersosialisasi secara langsung dan berisiko merasa kesepian.
Risiko Obesitas dan Penyakit Lain
Durasi penggunaan ponsel yang berlebihan juga berdampak pada kurangnya aktivitas fisik. Anak yang lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar cenderung jarang bergerak dan kurang mendapatkan udara segar. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko obesitas, yang dalam jangka panjang berpotensi berkembang menjadi penyakit seperti diabetes dan hipertensi. Kurangnya aktivitas fisik juga berdampak pada daya tahan tubuh dan kebugaran secara keseluruhan. Padahal, masa kanak-kanak merupakan periode penting untuk pertumbuhan fisik dan pembentukan kebiasaan hidup sehat.
Orang Tua Diminta Tegas Batasi Penggunaan
Melihat berbagai potensi risiko tersebut, orang tua diimbau untuk membatasi durasi penggunaan ponsel pada anak. Salah satu anjuran yang disampaikan adalah membatasi screen time maksimal dua jam per hari serta memastikan penggunaan dilakukan secara bijak dan diawasi. Orang tua juga perlu menerapkan aturan tegas, seperti tidak menggunakan ponsel sebelum tidur, membatasi akses media sosial sesuai usia, serta mendorong anak untuk lebih aktif berinteraksi secara langsung dan melakukan aktivitas fisik.
Kemajuan teknologi memang tidak dapat dihindari. Ponsel memiliki peran multifungsi yang mempermudah komunikasi dan pekerjaan, serta memberikan akses informasi yang luas. Namun, penggunaan yang tidak tepat dan berlebihan dapat membawa dampak negatif, terutama bagi anak-anak yang masih dalam tahap pertumbuhan. Dengan pengawasan yang tepat, edukasi sejak dini, serta pembatasan durasi penggunaan, risiko gangguan kesehatan akibat paparan radiasi dan kecanduan gadget diharapkan dapat diminimalkan.