Waspada Campak, Dokter Ingatkan Kenali Gejala sejak Dini
- 09 Mar 2026 22:03 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Penyakit campak kembali menjadi perhatian setelah adanya laporan dua warga negara Australia terkonfirmasi terinfeksi campak usai kembali dari Indonesia. Masyarakat diimbau untuk lebih waspada dengan mengenali gejala awal penyakit tersebut serta memastikan imunisasi anak telah lengkap.
Dokter dari Rumah Sakit dr. Ben Mboi Kupang, Ernita Selviana, menjelaskan bahwa campak merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dari kelompok paramyxovirus. Penyakit ini umumnya menyebar melalui droplet atau percikan dari batuk dan bersin penderita yang terhirup oleh orang lain.
“Campak disebabkan oleh virus dan penularannya sangat mudah melalui udara atau droplet. Biasanya gejala awalnya mirip flu, seperti demam, batuk, dan pilek,” kata Ernita dalam talkshow kesehatan yang disiarkan Kementerian Kesehatan.
Ia menjelaskan, salah satu ciri khas campak adalah munculnya ruam atau bercak merah pada kulit yang biasanya dimulai dari bagian kepala atau belakang telinga, kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Ruam tersebut dapat berubah warna menjadi lebih gelap sebelum akhirnya menghilang.
Menurut Ernita, perjalanan penyakit campak terdiri dari beberapa fase. Tahap pertama adalah masa inkubasi sekitar 10 hari, di mana penderita biasanya hanya merasakan gejala ringan seperti lelah atau tidak enak badan. Setelah itu muncul fase prodromal yang ditandai dengan gejala batuk, pilek, dan mata merah atau dikenal sebagai gejala “3C” yakni cough, coryza, dan conjunctivitis.
“Setelah sekitar tiga sampai empat hari, biasanya akan muncul ruam pada kulit. Total perjalanan penyakit hingga ruam menghilang biasanya sekitar satu minggu,” katanya.
Campak dapat menyerang siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Namun risiko lebih tinggi terjadi pada anak yang belum mendapatkan imunisasi serta individu dengan sistem kekebalan tubuh rendah, seperti penderita penyakit kronis atau gangguan imun.
Selain itu, campak juga dapat menimbulkan komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan baik. Komplikasi tersebut antara lain radang paru-paru (pneumonia), radang telinga, diare berat hingga radang otak (ensefalitis).
“Komplikasi ini bisa berbahaya, bahkan berisiko menyebabkan kematian jika penanganannya terlambat,” ujarnya.
Dalam penanganannya, pasien campak umumnya akan menjalani isolasi sementara untuk mencegah penularan. Virus campak diketahui masih dapat menular hingga empat hari sebelum dan setelah ruam muncul. Pengobatan yang diberikan umumnya bersifat suportif, seperti pemberian obat penurun demam, asupan cairan dan nutrisi yang cukup, serta suplementasi vitamin A.
Ernita menegaskan bahwa langkah pencegahan paling efektif adalah imunisasi campak pada anak sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Imunisasi diberikan pada usia 9 bulan dan dilanjutkan dengan dosis penguat pada usia berikutnya.
“Imunisasi memang tidak selalu menjamin seseorang 100 persen tidak tertular, tetapi dapat menurunkan risiko komplikasi berat hingga kematian,” katanya.
Selain imunisasi, masyarakat juga diingatkan untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti menutup mulut saat batuk, menggunakan masker saat sakit, serta rajin mencuci tangan.
Dengan mengenali gejala sejak dini dan melakukan pencegahan yang tepat, penyebaran campak diharapkan dapat ditekan dan masyarakat tetap terlindungi dari risiko penyakit tersebut.